Mada telah kembali ke rumah lamanya. Rumah peninggalan Oma yang ada di Jakarta. Dia datang tak sendiri. Ada Widya bersamanya. Namun, perempuan itu menjadi lebih pendiam dari biasanya.
Ini karena sebelum mereka berangkat ke Jakarta. Ada pembicaraan empat mata antara Anna dan perempuan itu. Anna meminta Widya menjelaskan tentang kondisinya.
Di ruangan kerja, percakapan itu berlangsung. Bukan sebagai ibu mertua dan menantu, tetapi majikan dan asisten pribadi anaknya. Widya dimintai pertanggungjawabannya.
"Siapa sebenarnya kamu, Arum?"
Widya yang menunduk sambil memilin ujung jilbabnya hanya terdiam.
"Jawab Arum, saya serius bertanya!"
"Saya Arum Hartini, Nyonya. Saya cuma gadis dari desa,"
"Apa! Gadis katamu?!"
"Kamu bukan lagi seorang gadis, Arum. Tapi perempuan yang sedang hamil!!"
"Da-darimana, Nyonya. Tau kalau kondisi saya ini?"
"Sudah lama dan saya bukan perempuan bodoh. Saya juga perempuan, yang pernah merasakan kehamilan jauh sebelum kamu,"
"Tiga kali saya merasakan hamil dan juga melahirkan. Jadi, saya jelas tau perubahan tubuh perempuan meski kamu berusaha menutupinya!"
"Dan yang membuat saya semakin yakin. Kejadian semalam di kamar anak saya, yang kamu lakukan dengannya!"
Penjelasan itu mampu mendatangkan rasa gugup yang berlebih pada Widya dan dia berusaha mengingat kejadian yang dimaksud Anna dengan Mada di kamarnya. Sampai membuat perempuan yang di hadapannya menjadi murka?.
Flashback Semalam.
Oh, sepertinya kejadian saat dia berada di kamar Mada selepas mengantarnya makan malam lalu bersantai menonton televisi. Sampai jam menunjukkan pukul sembilan malam.
Selepas itu, Widya mengantarnya kembali ke kamar. Saat dirinya hendak keluar. Tiba-tiba urung, lantaran ada pergerakan dari dalam perutnya. Sangat kuat sampai-sampai wajah Widya dibuat meringis. Hingga Mada menyadari jika asistennya itu belum juga keluar dari kamar.
"Arum, kamu masih di sini?"
"Maaf, Pak. Saya belum bisa keluar,"
"Kenapa?"
"Ada yang bergerak,"
"Apa yang gerak?"
"Bayi. Bayi dalam perut saya bergerak. Tumben, kuat banget gerakannya, Pak"
"Apa! Bayinya bergerak? Boleh saya menyentuh perutmu, Rum?"
"Gak tau kenapa. Saya ingin merasakannya?"
"Boleh silakan, Pak,"