"Rum! Arum! Di mana kamu?"
Kalimat itu yang pertama kali Mada ucapkan begitu tiba di rumah. Bukan ucapan salam sementara di belakang ada Pak Anto yang membawa koper miliknya.
Dari ruang tamu, ruang tengah, kamar tamu, kamar Oma, ruang makan hingga akhirnya dapur. Mada jelajahi, tapi dia tidak menjumpai perempuan bernama Arum itu.
Mendengar Mada yang terus-menerus memanggil Arum. Bi Piah dan Bi Pini pun beranjak keluar dari dapur.
"Bi Pini, Bi Piah. Tau di mana Arum?"
"Arum, sudah lama pergi dari sini, Den," sahut Pini.
"Paginya setelah Den Mada pergi. Arum juga pamit, tapi saya gak tau dia pergi ke mana?" timpal Piah.
"Pas kita tanya soal itu. Dia cuma senyum gak mau bilang," jelas Pini.
"Nyonya tau itu kok, Den. Malah Nyonya sendiri yang bilang. Kalo dia sudah pecat Widya. Eh, maksudnya Arum," ujar Piah.
"Apa!"
Kaki Mada langsung melangkah panjang. Dia sempoyongan serasa tidak memiliki tenaga, langsung melemas, lalu ambruk seketika di lantai dekat kamar tamu.
Saat dirinya mendengar penjelasan dari dua asisten rumah tangganya itu. Orang yang ingin dia lihat pertama kali di rumah malah sudah tak lagi bekerja. Karena Anna, ibunya sudah memecatnya, padahal Mada ingin berterima kasih padanya.
Karena darinya lah Mada memiliki semangat dan akhirnya dia mau menjalani pengobatan di Singapura.
"Kamu kenapa, Mada. Kenapa malah duduk di lantai?" ucap Anna selepas dirinya pulang dari kantor.
Mada mendongak. Wajahnya masih menyiratkan kemarahan.
"Kenapa usir Arum, Ma?"
"Oh, jadi gara-gara perempuan itu, kamu duduk di situ, bangun!"
"Jawab aja, Ma. Kenapa Mama usir Arum dari sini?!"
"Arum, Mama pekerjakan hanya sebagai asisten pribadi. Selama kamu buta,"
"Sekarang kamu sudah sembuh. Jadi, buat apalagi, Mama pekerjakan dia?"
"Tapi, Ma. Aku mau berterima kasih. Mau lihat bagaimana wajahnya. Karena dia udah bikin Mada punya semangat lagi,"
.