Tok! Tok! Tok!
"Mada udah waktunya makan malam, Sayang," ucap Anna sambil mengetuk pintu.
Namun, ucapan itu tak digubris. Mada masih terpaku dengan tulisan yang ada di dalam diary yang masih dia genggam.
Laki-laki itu, kini sedang menganggap dirinya bodoh, karena ternyata perempuan yang selama ini dia pikirkan, dia khawatirkan, dan ingin segera dia temui malah pernah ada di dekatnya, menjadi asisten pribadinya perempuan bernama Arum Hartini itu adalah Widya istrinya.
Dan bodohnya lagi, jika semesta sudah memberitahu tanda-tanda itu. Dia sendiri bisa merasakannya lewat hatinya, tetapi Mada mengabaikan. Jika perempuan itu adalah benar istrinya dan bukan Arum.
Perempuan yang berbeda. Bukan sebuah kebetulan saja bila suara yang terdengar sama. Namun, ternyata semua dugaannya itu salah besar. Suara hatinyalah yang benar dan Mada sangat menyesalinya.
Meraung dia di sini di kamar ini, menangis sesenggukan. Layaknya anak kecil yang sedang tak dituruti keinginannya oleh orang tua. Dia bahkan tak peduli sedari tadi pintu kamarnya diketuk seseorang. Memanggil, menyebut, menyuruhnya makan malam bersama.
***
Bosan tak kunjung mendapatkan jawaban. Akhirnya Anna membuka pintu kamar secara perlahan. Perempuan itu ingin tahu. Kenapa anaknya bisa mengabaikan dirinya?.
Anna lalu tercengang melihat kondisi putra sulungnya. Menangis meraung-raung berbaring di tempat tidur sambil memegang sebuah benda.
"Kamu kenapa, Mada? Bisa-bisanya nangis kayak gitu. Kamu itu udah dewasa. Malu, kalo orang lain sampai tau,"
"Kamu kayak bocah kecil yang gak dibolehin beli mainan?"
"Ayo cepat bergegas ke meja makan. Kita makan malam sekarang,"
"Aku gak lapar, Ma. Mama aja sendiri yang makan,"
"Aku mau nenangin diri di sini, biar emosiku stabil dulu,"
"Kamu ini kenapa lagi sih. Udahlah jangan bikin drama. Bikin Mama tambah pusing?"
"Mikirin kamu, mikirin pekerjaan. Gak ada sembuhnya ini pusing,"
"Apa ini efek gara-gara kamu habis operasi. Jadi kamu aneh kayak gini?"
"Kenapa Mama nyuruh Arum pergi?"
"Oh itu, karena tenaganya udah gak dibutuhkan lagi. Makanya, Mama berhentikan dia,"
"Selain itu, Ma?"
"Jujur Mama gak mau, kamu dekat dengan dia. Sebab, ada potensi dia akan macam-macam sama kamu,"
"Tau dari mana, Mama soal itu?"
"Ingat ya, Mada. Status kalian itu berbeda. Kamu itu bos sedangkan dia cuma asisten pribadi,"
"Lagi pula, apa dia gak mikir? Dia itu udah bersuami, lagi hamil pula. Kok bisa-bisanya berusaha mendekati kamu yang masih single,"