"Apa yang ada di kotak itu, Mada?"
"Uang, Ma. Jumlahnya enam puluh juta rupiah. Uang yang Mada berikan untuk Widya,"
"Waktu itu dia butuh uang. Orang tuanya punya utang dan sudah jatuh tempo untuk dibayar,"
"Dengan uang itu. Mada berhasil memaksanya menikah. Mada gak ada alternatif lain selain menikahinya dan sekarang dia mengembalikan uang itu,"
"Berarti bayi itu yang sedang dikandung Arum, anak-,"
"Itu anak Mada, Ma. Mada gak memungkinkannya,"
Mada lantas bangun dari duduk lalu beranjak ingin keluar kamar.
"Mau ke mana kamu, Mada?"
"Mau cari Widya, Ma,"
Refleks Anna beralih berdiri di ambang pintu menghadang putranya itu ke luar dari kamar.
"Gak! Mama gak izinin kamu keluar sekarang,"
"Mama tau, Mama salah. Mama sudah usir Widya, tapi itu karena Mama gak tau. Kalo ternyata Arum itu istri kamu, Widya,"
"Mama bukannya gak boleh kamu cari dia, Mada. Kamu kan tau. Kamu masih perlu banyak istirahat. Kamu itu baru sembuh dari kebutaan, Mada,"
"Bisa-bisanya Mama bilang kayak gitu. Mada jadi gak habis pikir. Di mana rasa empati sebagai perempuan, Ma,"
"Widya itu istri Mada, lagi hamil besar pula. Mada gak tau dia ada di mana sekarang, Ma?"