AKAD

Dini Kirani
Chapter #76

Pergi Ke Klinik


"Halo, masih standby kah?" ucap Mada di balik telepon.

"Iya, ini nomor telepon saya,"

"Kamu apa kabar, Widya?"

"Alhamdulillah, baik," jawabnya seraya meringis dan ringisannya bisa didengar kembali oleh Mada.

"Kamu kenapa, Widya,?"

"Ndak apa-apa, Pak. Cuma tumben ini perut saya dari tadi kontraksi, agak intens. Pinggang juga pegal banget,"

"Tunggu di situ! Jangan ke mana-mana, aku akan ke sana,"

"Tapi, Pak. Saya belum mau-,"

"Aku mohon, Widya. Jangan tutup sambungan ini. Selama aku di perjalanan. Biar kita bisa tetap berkomunikasi. Ok,"


Bukan Widya tidak mendengar semua perintah Mada. Hanya saja sakit yang ada di pinggang dan perutnya semakin intens, menjalar, dan menjadi-jadi. Widya menaruh ponselnya di saku dasternya. Tidak dimatikan. Perlahan dia keluar kamar lalu melangkah menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati.


Sementara di lain tempat. Mada sudah bersiap-siap menunggu taksi yang sudah dia pesan lewat aplikasi. Selama menunggu. Laki-laki itu bergegas berganti pakaian, menyiapkan uang di dompet, charger, dan ponsel yang masih tetap menyala terhubung dengan Widya.


Dan Widya sendiri sampai juga di anak tangga terakhir. Semula dia berniat ke dapur untuk mengambil minum. Namun, rasa sakit yang terus mendera di bagian pinggang dan perutnya memaksa perempuan itu untuk duduk dan terus menerus meringis menahan rasa nyeri dan sakit.


"Halo, Widya. Apa kamu masih aman?"


"Sakit banget, Pak,"


Kalimat itu membuat Mada membulatkan matanya. Dia tahu, dalam keadaan genting seperti ini. Dirinya tidak boleh panik meski taksi yang dia pesan belum juga tiba menjemputnya. Mada juga harus memikirkan dirinya sendiri tentang kondisinya yang baru saja pulang ke Indonesia pasca menjalani operasi mata.


***


Kini Mada sudah meluncur dengan kendaraan taksinya menuju lokasi Widya berada. Karena sebelumnya, laki-laki itu sudah lebih dulu menghubungi Pak Anto. Meminta nomor telepon dan alamat Widya. Syukurnya di kala panik kian melanda pikiran. Taksi yang sudah dinantikan akhirnya datang.


"Sebentar lagi aku sampai. Kamu standby di sana. Kita akan meluncur segera ke rumah sakit," ucapnya.


Sementara di balik telepon tidak ada bantahan dari mulut Widya. Rasa sakit tang sedang dia rasakan membuat pikiranya buyar lalu muncul pertanyaan. Apa iya, dia akan segera melahirkan? Mengingat usia kandungannya belum genap sembilan bulan atau lebih tepatnya masih tiga puluh lima Minggu.


Jalan lengang lantaran hari yang hampir pagi membuat tak sampai satu jam. Mada tiba di tujuan. Segera laki-laki itu mengetuk pintu warung yang juga tempat tinggal bagi pekerjaannya. Dengan langkah gontai dan tertatih. Widya membuka pelan pintu itu.


Dan untuk pertama kalinya. Setelah sukses menjalani operasi mata. Mada bertemu kembali dengan istrinya Widya. Wajah istrinya itu sangat memprihatikan. Keringat sudah membasahi seluruh area. Belum lagi ringisan menahan sakit tergambar jelas di sana. Tangan Mada lalu memapah berjalan menuju taksi yang smenunggunya. Pasangan itu pun segera ingin meluncur ke rumah sakit terdekat.


Namun, baru sampai pertigaan. Widya sudah merasa tak kuat. Perempuan itu sudah mengerang kesakitan. Sementara bahu Mada sudah dijadikan bantal Sering kali wajahnya pun ikut meringis setiap kali istrinya itu mencengkram kuat tangannya karena menahan sakit.


"Pak, seratus meter dari sini. Ada klinik bidan. Turunin saja saya di situ," perintah Widya.


Kepala sopir taksi pun mengangguk.


Lihat selengkapnya