AKAD

Dini Kirani
Chapter #77

Rasanya Campur Aduk

Mada sampai juga di warung makan. Setelah dua puluh menit berlari. Laki-laki itu pun masuk ke dalam. Sebab, pintu belum sempat terkunci. Dia bergegas ke lantai dua. Namun,  dahinya seketika mengerut. Tangannya pun menggaruk kepala lantaran bingung.


Sejenak Mada mematung. Sebab dia bingung yang mana kamar tidur istrinya. Berpikir sejenak untuk menentukan kamar mana yang akan dia pilih. Perlahan tangannya menarik kenop pintu dan tak lama pintu  itu pun terbuka. Wajahnya sumringah ternyata pilihannya tak salah.


Segera Mada mencarinya lalu mengambil benda yang dimaksud istrinya. Tas berwarna biru berisi perlengkapan lahiran. Setelah berhasil mengambilnya, Mada segera meninggalkan tempat. Namun, baru akan melangkah keluar dan segera kembali ke klinik. Seorang gadis memergokinya di depan kamar. Gadis itu pun spontan teriak.


"Maling!!!"


Teriakannya memekakkan telinga. Sontak Mada terkaget, dia lantas menolehkan kepala. Melihat gadis dengan wajah ketakutan sambil membawa tongkat sapu di tangannya.


"Mas, mau apa masuk ke kamar Mbak Widya. Mau maling kan? Mas maling kan!" tanyanya gugup.


"Bukan, saya bukan maling. Berani sumpah saya bukan maling, Mbak!"


"Bohong!"


"Kalo bener bukan maling. Ngapain juga berdiri di situ. Sambil bawa tas punya Mbak Widya. Cepat lemparkan tas itu ke saya dan segera pergi dari sini atau mau saya panggilkan polisi!"


Perlahan Mada mulai mendekatinya. Bukan untuk menyerahkan tas yang sudah ada di tangan, tapi untuk memberi tahu gadis itu tentang siapa dirinya dan apa hubungannya dengan Widya.


"Hey, Mbak. Saya ini bukan maling. Saya suaminya Widya,"


"Saya ke sini cuma mau ngambil tas ini. Ada barang-barang penting di dalamnya. Barang perlengkapan melahirkan,"


"Apa lahiran! Berarti Mbak Widya mau melahirkan?"


Belum sempat Mada menjelaskan. Ponsel tiba-tiba berdering di saku jaketnya, Mada mengambil lalu mengeraskan suaranya.


"Mas, lama banget, kamu di mana sih perutku sudah mules banget ndak karuan mau lahiran!"


"Baiklah Sayang. Aku segera datang!"


Mada bergegas. Dia berlari meninggalkan gadis yang masih mematung dengan kondisi ini. Di lihatnya jam di ponsel sudah menunjukkan pukul empat lewat empat menit. Mada kembali meletakkan ponsel di saku lalu melanjutkan lari secepat mungkin sambil membawa tas biru yang diminta Widya.

Lihat selengkapnya