Blurb
Nurhasanah terpaksa mengikuti kedua orang tuanya pindah ke sebuah rumah tua yang berdiri di tengah pemakaman. Ayahnya berkata kepindahan tersebut hanya sementara, tetapi Nur tahu janji-janji seperti itu selalu lebih mudah diucapkan daripada ditepati.
Sejak hari pertama, rumah itu menghadirkan kejanggalan. Ibunya mencium bau bangkai dari semangkuk mi instan, berbicara kepada seseorang yang tak pernah terlihat, dan terus menatap pemakaman seolah sedang menunggu seseorang pulang.
Sepeninggal ayahnya, seluruh beban hidup berpindah ke pundak Nur. Ia harus mencari nafkah, mengurus kebun, dan merawat sang ibu yang perlahan kehilangan ingatannya. Rumah tak pernah diam. Akar selalu punya cara untuk mencari tempat baru.