Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #1

Bab 1: Pindah

Ibu menunduk. Terduduk di atas kursi kayu lapuk. Jemarinya meremas ujung baju. Bahunya naik sedikit, lalu jatuh kembali. Tak sepatah kata pun terucap. Bahkan, ia tak peduli ketika debu-debu lemari menyisir rambutnya.

Aku hanya bisa memperhatikannya dari ambang pintu kamar, tak berani mendekat. Dinding-dinding tampak lebih terang karena jejak bingkai yang dilepas. Deretan sepatu sudah menghilang. Suara-suara tertinggal menjadi kenangan. Di luar, Ayah terus berteriak agar kami cepat masuk ke dalam mobil.

Aku menghampiri Ibu, mencoba meraih tangannya. Ia menepis tanganku. Matanya menyorot tajam. Mulutnya terbuka, tetapi terkunci lagi dengan cepat. Aku tahu rumah ini merupakan hasil jerih payahnya. Kini, semuanya harus direlakan.

Aku sendiri tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Meninggalkan rumah yang menjadi tempatku lahir dan tumbuh. Meskipun aku tak memiliki teman di sini, setidaknya aku mengenal tempat ini. Aku tahu lantai mana yang selalu berderit ketika diinjak, jendela mana yang tak pernah bisa ditutup rapat, dan bagaimana cahaya sore jatuh ke ruang tengah. Di rumah baru nanti, semuanya akan kembali menjadi asing.

“Ayah suruh kita cepat, Bu,” ucapku tipis. Aku menahan suaraku sekecil mungkin.

Ibu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan, mengarahkan jari telunjuk ke arah pintu. Aku mundur perlahan, keluar dari kamar. Tak ada lagi yang bisa kukatakan.

Ayah berjalan setengah berlari menghampiri. Ia memintaku segera menunggu di mobil. Katanya, langit sudah hampir padam.

Aku bergeming. Kupandangi semua sudut rumah untuk terakhir kali. Rasa asin memenuhi memori. Tak masalah, daripada hambar sama sekali.

“Nan, ayo! Kita harus pergi sekarang,” seru Ayah.

Melalui celah pintu, kulihat Ayah menyambar tangan Ibu. Rahang Ibu mengeras, tatapannya tak beralih sedikit pun dari wajah Ayah. Namun, Ayah malah terkekeh.

“Rumah kita nanti jauh lebih baik dari ini, Nan. Sudahlah, jangan keras kepala.” Ayah menarik lengan Ibu, menyeretnya bangkit. Ibu kalah tenaga dan terpaksa berdiri.

Cara Ayah terlalu kasar. Kupikir ia akan membujuk Ibu dengan lembut, tetapi aku salah. Ayah tak pernah berubah, walau Ibu pun sebenarnya sama.

“Nggak ada apa-apa,” ujar Ayah kepadaku, melemparkan senyuman yang tak sampai ke mata.

Aku melihat cengkeraman Ayah sangat kuat. Ibu merintih sembari memberontak. Aku bingung. Aku hanya bisa mengekor ragu di balik punggung mereka.

“Bunuh saja aku! Kubur aku hidup-hidup sekalian!” Ibu meraung saat Ayah membuka pintu depan kabin mobil. Urat lehernya terlihat menonjol.

“Kita cuma pindah rumah sebentar, Nan. Kamu ini selalu berlebihan.” Ayah mendorong tubuh Ibu masuk ke kursi samping sopir.

“Sebentar itu berapa lama? Kamu selalu saja—”

“Sudah! Cukup!” Ayah menekan bahu Ibu keras-keras, lalu membanting pintu mobil.

Lihat selengkapnya