Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #2

Bab 2: Rumah Baru

Ibu menepis tangan Ayah yang bermaksud menggendongnya. Ia terus meracau, membisikkan hal-hal yang membuat kudukku meremang. Katanya, ada banyak mata yang memperhatikannya. Katanya, rumah yang akan kami tempati bukanlah sebuah bangunan, melainkan kuburan yang memanjang ke atas.

Pak Sopir berusaha menenangkan Ibu. “Bu, ndak usah khawatir. Wong mati ndak sejarahnya bisa hidup lagi,” celetuknya ringan.

Ibu mendelik. Ia mencengkeram tangan Pak Sopir. “Kamu jangan ikut campur!” geramnya.

Ayah memintaku untuk menuju ke rumah lebih dulu bersama Pak Sopir. Ia bilang akan mengurus Ibu sebentar. Sejujurnya, aku tidak mau. Namun, aku tak punya pilihan. Tak pernah punya.

Langkahku mengayun lambat. Mataku masih tertambat pada Ayah dan Ibu di belakang. Ayah melambungkan senyum, mengayunkan telapak tangan tertutup beberapa kali. Dagunya menuding ke arah rumah baru.

Setiap pijakan bak rangkaian pertanyaan yang belum terjawab. Tentang mengapa harus pindah ke tempat ini. Tentang Ibu yang tak pernah berhenti menguji akal sehatku. Lalu, Ayah yang selalu memilih sesuatu tanpa meminta pertimbangan aku ataupun Ibu.

Suara Ibu menggema, tetapi tidak jelas kata-katanya. Aku terus berjalan. Pandangan lurus ke depan, tak berani melirik pada kegelapan.

Lampu kuning berpendar setengah mati di sekeliling rumah. Tampilan luarnya tidak istimewa, tidak pula terlalu buruk. Terasnya luas dengan pagar bambu yang rendah. Hanya saja, dinding bata rumah tidak menutup penuh sampai ke belakang. Bagian dapur justru lebih didominasi anyaman kulit bambu.

“Tempat ini emang kelihatannya seram, Mbak. Tapi sebenarnya ndak. Apalagi kalau siang, suasananya syahdu sekali,” ujar Pak Sopir.

Aku hanya mengangguk. Perhatianku tertuju pada kubus sempit tanpa atap yang berdiri terpisah di luar. Kuharap bangunan ganjil itu bukan bagian penting dari rumah ini.

Pak Sopir meminta izin kembali ke bawah. Aku bergegas melewati pagar. Setelah melepaskan sandal, aku menginjakkan kaki di atas ubin merah persegi. Dingin. Sangat dingin, seperti menapak pada bongkahan batu es. Aku mengangkat kakiku, lalu menapak lagi. Tetap saja dingin.

Aku duduk di kursi rotan. Mataku masih terpaku pada ubin merah di bawah kaki. Tak ada suara, selain desir angin yang sesekali melintas di teras.

Ayah dan Ibu datang. Ayah menggenggam erat pergelangan tangan Ibu. Langkahnya tergesa, sedangkan Ibu terlihat terpaksa.

Tatapan Ibu terus dijatuhkan ke bawah. Ia bak hewan ternak yang digeret masuk ke kandang karena hari sudah malam.

Aku mengalungkan syal ke leher Ibu. Embusan napasnya terdengar memburu. Giginya berbunyi gemeretak. Saat aku memperhatikan wajahnya, ada warna yang berbeda di kedua pipinya. Pipi kanannya terlihat lebih menyala, kemerahan. Sangat kentara, walau dalam remang sekalipun.

Ibu mengusap pipinya yang kemerahan itu sekali. Aku melihat lebih dekat, memastikan dugaanku. Namun, Ayah sengaja berdiri di hadapanku.

“Neng, bawa Ibumu istirahat, ya. Di dalam semuanya udah bersih, kok,” ucap Ayah, lembut. Wajahnya berseri. Bau asam yang menguar di tubuhnya seakan untuk menyamarkan sesuatu yang tidak kuketahui.

Aku dan Ibu masuk ke dalam rumah. Aku memapahnya dengan hati-hati. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi tatapan Ayah membuatku memilih diam.

Lihat selengkapnya