Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #3

Bab 3: Dapur

Pompa air. Tungku. Kamar mandi luar. Kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul saat Ayah mengajakku ke bagian belakang rumah.

Ia berulang kali menegaskan bahwa ini hanya untuk sementara, tetapi kata itu terasa kabur, menyimpan ketidakpastian yang menekan dada. Tak ada yang bisa kulakukan, selain beradaptasi dan menahan napas.

Ayah merapikan posisi tungku, menempatkannya di sisi ruangan yang masih beralas tanah. Aku kurang suka posisinya, terlalu rapat ke arah luar. Tungku itu pun seperti menertawaiku. Lubang di tempat menata kayu mirip mulut yang tak bisa berhenti berbicara, sedangkan bagian atasnya menyerupai kepala yang kosong. Rumah ini benar-benar tertinggal.

“Jangan di situ, Yah. Gelap,” ucapku.

Ayah lantas bergeser sedikit. “Di sini aja, Neng. Kalau kena ubin, nanti ubinnya pecah kena panas.”

Aku ingin posisinya di tengah, sejajar dengan lorong agar aku mempunyai pandangan luas saat memasak. Namun, ketika Ayah sudah menetapkan keputusan, tak ada ruang untuk membantah.

Urusan perapian selesai, Ayah berpindah ke bangunan kubus tak beratap di samping dapur. Aku berdiri di ambang pintu, membayangkan betapa rapuhnya perlindungan tempat itu. Dari guyuran hujan, atau dari tatapan-tatapan asing yang bisa saja mengintai dari balik kegelapan.

“Tarik tuasnya seperti ini, Neng. Tarikan pertama memang berat, tapi kalau airnya udah naik, bakalan enteng.” Ayah memperagakan gerakan memompa air dari dalam tanah. “Pas melepas tuasnya harus hati-hati. Dagu Neng jangan dekat-dekat, nanti bisa kena hantam.”

Aku menyimak, meski fokusku terpecah ke arah tungku. Keputusan Ayah menjual kompor di rumah lama membuat segalanya terasa jauh lebih sulit.

Ayah melambaikan tangannya. Aku mendekat, menghampirinya. Mataku menyapu sekeliling area basah itu.

Dinding kamar mandi hanya dibatasi anyaman bambu tebal, sementara lantainya berupa batu-batu bulat berbagai ukuran yang ditanam ke permukaan tanah. Tidak ada keran. Tidak ada bak penampungan. Hanya ada gayung plastik pecah dan ember-ember bekas wadah cat.

Tidak hanya itu, tempat mencuci pun tidak memiliki sekat dengan area membersihkan tubuh. Aku tertawa hambar di dalam hati.

“Enak kan suasana di sini? Adem.” Ayah membentangkan kedua tangannya seraya memejamkan mata beberapa detik.

“Bagaimana dengan atapnya, Yah? Kalau hujan turun atau kalau—”

“Nanti Ayah buatkan.” Ayah memotong cepat.

Aku melangkah kembali ke dalam. Di ruang tengah, Ibu duduk dengan tubuh kaku di atas kursi kayu. Otot-otot lehernya menegang. Ia mendengus kasar saat melihatku.

“Nasi goreng,” ucap Ibu, sedikit membentak, menuntut makan.

“Nasi goreng Ibu semalam kan udah dimakan Ayah,” jelasku.

Ibu bangkit. Ia masuk ke kamar, kemudian membanting pintu. Hentakan suara kayu yang saling beradu membuat air mataku mendesak keluar.

Lihat selengkapnya