Hari pertama menempati rumah baru, beradaptasi dengan cara yang serba asing, keinginan untuk pulang memadat di kepala. Pulang ke kehidupan kami yang dulu.
Ibu memang mulai banyak berbicara di sini, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti cengkeraman di tenggorokan. Aku berada di persimpangan antara memercayai racauannya atau mempertahankan akal sehatku.
Tempat ini dikepung oleh tanah-tanah pemakaman. Namun, orang mati tidak mungkin mampu menggali tanahnya sendiri. Dunia mereka seharusnya berbeda. Meski begitu, ketakutan selalu tumbuh pada hal-hal yang tidak mampu kupahami.
Ayah mengajakku turun ke perkampungan di bawah. Alasannya untuk melapor kepada Pak RT sekaligus membeli bahan makanan. Sebelum melangkah keluar, Ayah merapatkan seluruh tirai jendela dan mengunci semua pintu. Ia tidak mengajak Ibu.
“Kenapa kamar Ibu dikunci juga, Yah? Kalau Ibu butuh apa-apa gimana?” tanyaku saat melihat jari Ayah mencabut kunci dari lubang pintu depan.
“Kita cuma pergi sebentar,” sahutnya santai.
Tanganku meraih gagang pintu. Kakiku tertahan oleh perasaan cemas. Ibu berselimut gelap di dalam rumah di ruangan yang sempit. Aku takut. Tak tega.
“Ayo, Neng. Nanti keburu sore. Ibumu juga kan lagi tidur.” Ayah memasukkan kunci ke dalam saku celananya tanpa rasa bersalah.
Kami berjalan berdampingan di bawah terik panas yang menyengat. Angin sore berembus sesekali, memainkan ujung rambutku. Ada tumpukan pertanyaan yang tertahan di tenggorokan, terutama tentang suara kaca pecah tadi pagi dan keheningan panjang setelahnya. Aku ingin memastikan keadaan Ibu, tetapi melihat sikap Ayah yang mengabaikannya, keberanianku menciut.
Beberapa pasang mata dari teras rumah warga menengok ke arah kami. Ayah mengangkat tangan, melempar sapaan akrab seakan sudah lama mengenal mereka. Aku menunduk, menggeser posisi tubuh di belakang bahu Ayah untuk menghindari tatapan siapa pun.
Setiba di depan rumah Pak RT, aku mematung sejenak. Dari celah pintu yang terbuka setengah, terdengar gelak tawa para pria yang sedang membicarakan perempuan.
“Neng tunggu di luar aja, ya, Yah,” bisikku.
“Cuma sebentar, Neng.” Ayah mendesakku melangkah masuk.
Ucapan salam dari Ayah menjeda obrolan mereka. Beberapa pria paruh baya menoleh, mempersilakan kami duduk di sofa.
Ayah memperkenalkan diri, menyerahkan lembar fotokopi identitas, dan menjelaskan asal-usul kami. Pak RT mengangguk-angguk, menyimak lembar kertas tersebut sebelum menyambut kami dengan senyum lebar. Ia mengutarakan harapan agar kami betah. Ia juga menegaskan lingkungan perkampungan ini tergolong aman dan penuh kekeluargaan.
Kupikir urusan kami selesai sampai di situ, tetapi secangkir teh hangat disajikan di atas meja. Ayah bukan tipe orang yang akan menyeruput minuman lalu langsung pamit. Benar saja. Pandangan Pak RT serta dua pria di sebelahnya beralih kepadaku.
“Jadi, Dek Nur ini usianya baru 20 tahun? Baru lulus sekolah, ya? Sekarang kuliah atau kerja?” tanya Pak RT.