Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #5

Bab 5: Tanah Subur

Cahaya fajar menyapu halaman sedikit demi sedikit. Tidak ada panggilan yang menyuruhku melakukan sesuatu. Tidak ada omelan karena aku belum menyiapkan sarapan.

Aku melihat Ibu tak bergerak dari kursinya di teras. Matanya tertambat pada hamparan nisan di luar pagar bambu. Aku mendekat, lalu duduk di sampingnya. Udara pagi membelai wajahku. Sejuk dan dingin. Untuk sejenak, aku mengira Ibu sedang menikmati ketenangan teras ini.

Anehnya, Ibu tidak menolak keberadaanku. Padahal, biasanya ia tidak suka aku duduk sejajar dengannya, kecuali ketika sedang di meja makan.

Namun, aku terlalu cepat menyimpulkan. Ibu mendelik. Sorot matanya bagai sekumpulan lidi kaku yang diseret di mukaku.

“Ibu... Ibu mau...” Kalimatku menguap. Aku memilih beranjak menuju dapur.

Sebelum langkahku jauh, aku mendengar Ibu berucap lirih. Kata-katanya samar, tetapi aku menangkap satu kata yang tertahan: “Pulang.”

Aku menoleh. Pandangan Ibu sudah kembali lurus menembus nisan-nisan kusam. Bibirnya terkunci rapat. Angin pagi berembus kencang, mengibaskan rambutnya yang kusut.

Suara kesibukan dari belakang rumah menarik perhatianku. Aku melongok ke luar. Ayah duduk bersila di atas tanah tanpa alas. Satu tangannya menahan batang pohon singkong, sementara tangan lainnya mengayunkan golok, memotong batang tersebut ruas demi ruas.

Ayah terlihat sangat bersemangat, seolah inilah dunia yang selama ini ia cari. Dunia yang ia dapatkan dengan menjual rumah beserta seluruh perabotan modern kami. Tidak ada penanak nasi listrik. Tidak ada televisi. Ia mengatakan kehidupan di sini tidak membutuhkan dengung mesin dan layar.

“Kayu bakarnya sudah Ayah siapin di dekat tungku, Neng,” ujarnya tanpa membelokkan pandangan.

Ia hanya menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Golok di tangannya terus bekerja.

Aku berjalan beberapa langkah ke sisinya. Mulutku sempat terbuka, tetapi tidak ada kata yang sanggup keluar.

“Ayah mau mencoba berkebun. Menanam singkong, jagung, dan sayuran,” tuturnya seraya melunjurkan kaki, menatap lurus ke gundukan-gundukan tanah makam.

“Di sini?” tanyaku. Pandanganku mengikuti arah tatapannya.

“Tadi Ayah ke rumah Pak RT, terus dikasih batang singkong ini.” Ia menepuk-nepuk lututnya yang berdebu. “Batang singkong ini bisa jadi salah satu sumber makanan kita. Menanamnya pun gampang. Cukup ditancapkan ke tanah.”

“Di mana Ayah akan menanamnya?” Aku mengernyit. Tidak ada lahan kosong yang tersisa. Semuanya sudah bertuan, meski para pemiliknya tidak lagi bernapas.

Lihat selengkapnya