Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #6

Bab 6: Mimpi

Suara-suara itu nyata. Terdengar makin keras dan menekan dari bawah ranjang.

Aku menarik selimut, menggulung ujungnya, lalu menyumpalkannya rapat-rapat ke lubang telinga. Namun, bisikan-bisikan itu sanggup menembus kain tebal yang kubuat sebagai peredam. Aku berteriak memanggil Ayah. Bibirku terbuka, tetapi tak ada satu pun kata keluar, seolah ada yang mencekik leherku.

Aku menarik tubuhku ke belakang hingga punggungku membentur dinding. Tanah-tanah di bawah lantai seperti ruang perjamuan, tempat orang-orang saling menyahut. Semakin aku berusaha mengabaikannya, semakin dekat mereka di telingaku.

Kutekan kedua telapak tanganku di telinga sekuat tenaga, tak menyisakan celah sekecil apa pun. Keringat menggenang di pelipis, membasahi anak rambut yang menempel di dahi. Aku menyeret kedua lutut ke dada, memeluknya erat untuk memperkecil ukuran tubuhku. Mataku bergerak liar menatap kegelapan kamar.

Aku mulai menghitung dalam hati. Entah. Aku sendiri tidak tahu mengapa melakukannya.

Suara-suara yang saling bersahutan itu perlahan menghilang. Aku menurunkan tangan, lalu turun dari ranjang. Kuketuk pintu kamar Ayah. Angin kencang berembus menusuk punggungku. Ketika aku menoleh ke depan, pintu depan terbuka lebar.

Mungkin Ayah sedang duduk di depan, pikirku. Aku lantas berjalan tanpa ragu ke teras.

Ternyata bukan Ayah yang duduk sambil menatap kesunyian, melainkan Ibu. Ia menggerakkan kedua tangannya, seakan sedang mencoba meraih sesuatu.

Aku terpaku di ambang pintu.  Apa yang sedang dilakukan Ibu? Mengapa ia ada di luar? Ke mana Ayah?

“Bu…” lirihku.

Ibu menurunkan tangannya. Kepalanya bergerak ke arahku. Wajahnya basah, tubuhnya tampak menggigil. Aku mendekat, tetapi sendiku enggan untuk merapat.

“Ibu kenapa ada… di luar?” tanyaku dengan suara patah-patah.

“Pulang. Bawa Ibu pulang, Nur,” jawabnya. Suaranya memelas, penuh rintihan yang menyayat.

Aku berlari ke dalam, menggedor pintu kamar Ayah berkali-kali. Tidak ada balasan. Aku memeriksa dapur yang remang. Kosong.

Aku kembali ke teras. Ibu meracau keras. Suaranya memenuhi kegelapan malam, mengutuk tempat ini sebagai penjara tanpa jeruji besi, dan memohon untuk dipulangkan.

“Kita… kita ke dalam aja, Bu.” Aku mengulurkan tangan, bermaksud memapah tubuhnya.

Ketika jari-jariku menyentuh bahunya, ia memberontak histeris. Ia mencakar punggung tanganku, menarik-narik rambutku, lalu menghempaskan tubuhku hingga aku tersungkur di lantai yang dingin. Ia juga menghempaskan kursi dan meja kayu ke halaman.

Rasa sakit di punggung tanganku berdenyut perih saat angin malam mengusap kulit yang terkelupas. Aku tertunduk, memeluk kepala, tak berani melawan. Jika kemarahan Ibu berlanjut, aku hanya bisa pasrah menerimanya.

Lihat selengkapnya