Ayah selalu membatasi ruang gerakku. Hanya rumah dan sekolah. Harus pulang tepat waktu.
Aku menatap buku-buku pelajaran SMA yang lolos dari pembersihan sepihak Ayah. Ayah selalu mengatakan bahwa menyimpan barang yang tidak lagi terpakai hanya akan memenuhi ruangan. Ia menukarnya dengan uang, seolah aku tak boleh mengingat apa pun.
Ingin rasanya memiliki kehidupan yang sedikit lebih luas. Namun, identitasku sebagai perempuan selalu dijadikan Ayah sebagai alasan untuk mengurungku. Aku tidak boleh ke mana-mana. Padahal, aku hanya ingin seperti dua perempuan berseragam pabrik yang kulihat tadi pagi. Sekadar memiliki teman dan kebebasan. Bukan ingin mengabaikan kewajibanku di rumah.
Panggilan Ayah yang melengking dari arah belakang membubarkan lamunanku. Katanya, api di tungku padam. Aku lupa sedang menanak nasi.
Aku berlari, nasi sudah berpindah ke wadah plastik besar. Uap putih masih mengepul dari permukaannya. Ayah mengaduknya perlahan dengan centong kayu, sementara tangan satunya mengayun kipas, mengembuskan udara hangat ke wajahku.
“Kalau Ayah tidak ke dapur, kita tidak akan jadi makan,” ujarnya.
Aku membungkuk, mengulurkan tangan. Centong dan kipas bambu berpindah tanpa perlu diminta. Ujung jemariku sempat bersentuhan dengan tangannya yang kasar sebelum ia bergeser ke samping, menyerahkan tempatnya kepadaku.
“Apa sih yang kamu pikirkan, Neng?” tanya Ayah.
Tidak ada. Aku ingin menjawab demikian, tetapi nyatanya banyak hal yang bergelantungan di kepalaku. Termasuk sikap Ayah yang tiba-tiba mau mengangkat dan mengangin-anginkan nasi.
“Neng?”
Ayah mungkin menunggu jawabanku. Aku memindahkan nasi ke wadah anyaman bambu. Centong di tanganku bergerak pelan, mengurai gumpalan-gumpalan yang masih berasap. Beberapa kali aku mengangkat kepala, lalu mengurungkannya lagi.
“Yah...” panggilku akhirnya.
Ayah tidak menoleh. Ia sibuk memercikkan air ke bara hingga terdengar desis pendek.
Aku menggenggam erat gagang centong. “Neng pengen punya kegiatan. Neng bosan jika di rumah terus.”
Jantungku mencelos setelah mengatakannya. Aku siap jika Ayah mungkin akan marah atau membentakku. Namun, melihat ia tidak segera menyahut, aku menganggapnya sebagai pertanda baik.
Ayah berjalan ke meja makan, lalu duduk. Ia mendorong gelas kosong di hadapannya ke arahku.