Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #8

Bab 8: Belenggu

Sudah berhari-hari pintu kamar Ayah dan Ibu tertutup rapat. Setiap kali aku melangkah mendekat, Ayah selalu berdiri di di ambang pintu. Kadang seperti sedang memperbaiki engsel pintu, kadang hanya bersedekap sambil menutup mata.

Ia tidak pernah melarangku masuk, tidak juga mengizinkan. Tangannya hanya bergerak mengambil alih nampan makanan yang kubawa. Ia lalu menyelip masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintunya dengan cepat, meninggalkanku sendirian dengan kebimbangan.

Suara batuk Ibu kadang menjadi pelega untukku, meski bukan berarti aku merasa tenang seutuhnya. Setidaknya, aku tahu ia tidak terus diam,

Ayah sedang berada di halaman belakang, mencangkul tanah untuk menyemai bibit-bibit sayuran yang dibelinya kemarin. Hentakan cangkulnya terdengar stabil dan berirama. Dari halaman depan, aku sesekali mengintip ke arahnya sambil berpura-pura menyapu.

Setelah yakin Ayah akan cukup lama menyiapkan lahan untuk kebunnya, aku mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Kubuka pintu kamar Ibu dengan hati-hati. Aku hanya ingin melihat keadaannya.

Begitu pintu terbuka sedikit, aroma pengap langsung menyergap. Udara di dalam kamar terasa berat. Jendela masih mengunci, tirai masih menggantung ke lurus, menahan sinar matahari masuk. Aku menarik napas panjang sesaat sebelum mendorong pintu lebih lebar dan melangkah lebih dalam.

Ibu terbaring di atas ranjang dengan selimut melilit tubuhnya hingga ke leher. Wajahnya tampak pias.

"Air. Air, Nur."  

Aku tersentak. Mata Ibu masih terpejam. Bibirnya nyaris tidak bergerak, tetapi suaranya terdengar jelas. Ia bisa merasakan bahwa aku berada di dekatnya.

"Bu..." Aku melangkah melewati tumpukan pakaian di lantai. "Ibu mau minum?"

“Nur…” Ibu memanggilku lagi. Suaranya pelan dan pecah. “Cepat. Mana airnya, Nur.”

Aku belum pernah melihat Ibu selemah ini. Aku segera berlari ke dapur.  Tanganku gemetar, nyaris menjatuhkan gelas saat mengambilnya. Tutup termos menggelinding ke lantai, membentur kaki meja sebelum berhenti. Aku bahkan tak memungutnya.

“Bu… ini minumnya.”

Ibu hanya terbaring diam, bernapas berat di balik selimut yang terus berguncang mengikuti tubuhnya yang menggigil. Bibirnya mengering, berlapis putih.

Ibu menjulurkan tangannya. Kuletakkan gelas di samping ranjang. Lalu, aku menyelipkan satu lengan ke belakang punggungnya untuk membantu menegakkan tubuhnya.

Tubuh Ibu sangat dingin seperti kain basah yang dilbiarkan semalaman. Aku nyaris mengibaskan tanganku.

Setelah meneguk air beberapa kali, Ibu meminta direbahkan lagi. Ia juga meminta ditambahkan selimut.

Aku melihat lagi ke sekeliling. Gelap. Berisik. Hawa dingin merayap di kakiku.

Lihat selengkapnya