Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #9

Bab 9: Orang Pintar

Ini sangat berlebihan. Ibu terbaring seperti seorang yang berbahaya. Aku tidak tahu apa dasar Ayah memperlakukan Ibu seperti ini. Kupikir keadaan Ibu sudah membaik. Ternyata sebaliknya, atau malah Ayah yang membuatnya makin buruk.

Suara napas Ibu nyaris tak terdengar. Matanya tertutup kaku seolah menyerah. Tadi, saat Ayah mengencangkan tali-tali itu, tubuh Ibu masih memberontak. Kakinya menghentak-hentak kasur, bahunya terangkat setiap kali simpul baru ditarik. Bahkan setelah Ayah selesai, ia masih mengerang.

Kini, tidak. Selimut yang kusut di bawah tubuhnya tak lagi bergerak. Tali-tali itu pun diam di tempatnya. Tak ada lagi bunyi gesekan kain. Tak ada lagi tarikan yang membuat rangka kayu ranjang berguncang.

"Bu..."

Aku menunggu. Bahkan, saat kupanggil sekali lagi, yang menyahut hanya keheningan di dalam kamar. Aku meraih tangan Ibu. Kulitnya masih sangat dingin. Dua jariku menekan bagian bawah pergelangannya. Aku pernah melihat orang-orang melakukannya ketika memeriksa nadi. Entah letaknya tepat atau tidak, aku hanya berusaha memastikan.

Ada denyut. Lemah, tetapi masih ada. Aku mengembuskan napas panjang. Sedikit lega.

Tanganku turun ke arah tali yang melilit pergelangan kaki Ibu. Tambang itu menekan kulit hingga meninggalkan lekukan kemerahan. Serabutnya terkelupas, menempel pada permukaan kulit yang lembap oleh keringat.

Pelan-pelan aku mencoba menyelipkan jari ke bawah lilitannya, tak bisa. Aku menarik simpulnya, tak bergerak. Kucoba dari sisi lain, hasilnya sama.

Simpul itu sangat kuat dan kokoh. Beberapa kali aku berpindah dari satu ikatan ke ikatan lain, berharap menemukan bagian yang lebih longgar. Namun, semuanya sama kerasnya. Semakin lama mencoba, semakin terasa bahwa Ayah memang tidak ingin ikatan itu terlepas.

Aku berlari ke kamarku, lalu ke dapur. Aku membongkar laci demi laci, mengambil sendok dan pisau tumpul, apa pun yang cukup tipis untuk menyusup ke sela simpul.

Tak ada yang berhasil. Masih terlalu tebal untuk membuat rongga di ikatan Ibu.

Saat kembali ke kamar untuk kesekian kalinya, napasku sudah memburu. Ibu masih telentang dalam posisi yang sama. Tetap diam.

Akhirnya, aku teringat sesuatu. Gunting. Aku balik lagi ke kamarku.

Benda tajam itu sudah ada di tangaku. Aku menatap sejenak bilahnya yang memantulkan cahaya dari luar.

Jangan dilepas! Suara Ayah berdengung di telingaku.

Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tak ada tanda-tanda Ayah akan kembali dalam waktu dekat. Lagi pula, aku tidak berniat membebaskan Ibu sepenuhnya. Aku hanya ingin melonggarkannya sedikit. Sedikit saja. Nanti aku bisa mengikatnya lagi seperti semula.

Kubuka bilah gunting perlahan, lalu menyelipkannya ke bawah tali. Aroma aneh menusuk hidungku. Harum bunga yang manis, disusul bau sengat yang membuat perutku mual, seperti bau pembakaran kayu dan rokok yang meninggalkan rasa getir di hidung.

Aku mendongak kaget, menarik gunting secepat mungkin. Ayah sudah berdiri di ambang pintu kamar. Di belakangnya, seorang lelaki tua menghujamkan pandangannya ke arahku.

Lihat selengkapnya