Uang belanja dari Ayah kugenggam erat saat melangkah meninggalkan rumah. Pagar bambu yang usang terlewati. Kicau burung-burung yang masih menggantung di udara mengiringi ayunan kakiku.
Selang beberapa langkah, aku menoleh ke belakang. Rumah masih berdiri di tempat yang sama, dikelilingi makam-makam. Gundukan-gundukan tanah tersebut bahkan tampak lebih rapi daripada yang biasa kulihat dari dalam rumah. Rumput liar tumbuh makin lebat. Pohon-pohon di pinggir pemakaman bergoyang ditiup angin.
Tak ada yang aneh. Lahan garapan Ayah terlihat biasa saja. Atap kamar mandi luar yang belum terpasang terasa bukan hal yang mendesak untuk saat ini. Suasana rumah teduh dan tenang, jauh dari bising kendaraan dan omongan tetangga.
Aku memalingkan wajah dan kembali berjalan. Cahaya matahari mulai terasa hangat di kulit.
Setiba di warung, aku langsung menuju rak sayuran. Beberapa bungkus sayur sop tersusun di atas ranjang bambu. Aku mengambil satu. Isinya sudah lengkap: wortel, kentang, kol, daun bawang, dan seledri yang diikat menjadi satu.
Setelah itu, aku beralih ke sisi sebelah yang lantainya selalu basah oleh sisa air cucian dan lelehan es. Beberapa ekor ayam tersusun di atas meja kayu, tetapi tidak ada yang dijual dalam potongan kecil.
"Bu, bisa beli setengah?" tanyaku.
Pemilik warung yang sedang menimbang cabai mengangguk. Ia meletakkan pekerjaannya, berpindah ke meja potong dengan gesit.
"Mau yang mana?" Ia menyodorkan dua bagian ayam.
Aku menunjuk bagian memiliki ceker. "Yang itu saja, Bu."
"Tumben beli ayam," ucap Bu Warung sambil menyatukan belanjaanku ke dalam kantong hitam.
Aku tersenyum tipis. "Ibu lagi pengen makan sop."
Total belanjaanku hari ini dua puluh ribu rupiah. Lebih mahal dari biasanya. Lebih mewah untuk satu hari.
"Kumaha keadaan ibumu sekarang?" tanyanya lagi.
Aku menunduk sejenak, berpura-pura memastikan isi kantong belanjaan. "Mendingan," jawabku ringkas, bersiap pergi.
Namun, bibirnya kembali terbuka. "Kemarin katanya kesurupan, ya?"
Aku menahan senyum yang mulai terasa kaku di bibir. Kukira tidak akan ada yang tahu mengenai kondisi ibuku. Nyatanya, kabar itu berembus sampai ke warung ini. Mungkin lelaki tua itu yang bercerita kepada orang-orang.
"Nggak, Bu." Aku menggeleng. “Cuma demam aja.”
"Bilang ke ibumu, jangan banyak ngelamun, gitu, ya," ucapanya sambil menyiram air, membersihkan bercak darah ayam di meja.
Aku tidak menjawab. Aku menunduk dan berbalik pergi dengan cepat tanpa menambah kata lagi.