Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #11

Bab 11: Tatapan

Celana Ayah terhampar di pangkuanku. Bagian lututnya robek memanjang. Aku menusukkan jarum sekali lagi, menarik benang hitamnya hingga jahitan merapat kencang. Semilir angin membelaiku, memberi sedikit ruang bernapas di tengah kesibukan sederhana ini.

Suara tawa melengking menjeda gerak tanganku. Aku mengangkat kepala, mencari sumbernya.

Beberapa anak berseragam sekolah dasar sedang berkeliaran di area pemakaman. Tas mereka masih menggelembung di punggung. Seragam putih-merah mereka tampak kusam, dengan kancing atas yang terlepas dan ujung baju mencuat keluar dari celana. Mereka melompat dari satu gundukan ke gundukan lain, membungkuk di antara rumput liar, lalu bersorak setiap kali menemukan sesuatu. Mungkin tanaman atau serangga tanah.

Dari teras rumah, aku bisa mendengar suara mereka dengan jernih. Teriakan, derai tawa, saling ejek, lalu tawa lagi. Berisik. Kehadiran mereka di tengah kesunyian makam menjadi pengusir kepenatan bagiku. Aku menghentikan tusukan jarum, mengamati polah mereka sambil tersenyum sendiri.

Aku bangkit, berjalan beberapa langkah karena bayangan mereka mulai mengecil. Tiba-tiba, pintu di belakangku terbuka keras, disusul derap langkah kaki yang terburu-buru.

Saat memutar kepala, Ibu sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak sedikit lebih segar, meski badannya makin kurus. Ia memandang lurus ke arah hamparan pemakaman tanpa berkedip.

Ibu melangkah melewatiku. Ia membungkuk cepat, meraup beberapa batu-batu kecil dari tanah halaman.

Anak-anak itu berlarian, saling mengejar. Tanpa sadar, mereka bergeser ke dekat batas pagar rumah. Aku menatap wajah Ibu. Rahangnya mengeretak, matanya tak lepas dari mereka.

Benar saja. Ibu melempari anak-anak itu dengan batu-batu kecil di tangannya.

“Pergi!” bentak Ibu. Suaranya pecah di udara. “Seenaknya saja kalian menginjak-injak rumah orang!”

Aku membeku. Lemparan Ibu yang kedua menyusul, diiringi bentakan yang lebih keras. "Jangan main di situ! Pulang kalian!"

Anak-anak itu terhenti kaget. Mereka mematung sejenak dengan raut bingung. Kerikil yang dilemparkan Ibu mengenai badan salah satu dari mereka. Mereka tidak berlarian, tetapi malah berdiri menantang. Ibu yang makin berang kembali membungkuk, berusaha meraih batu-batu yang lebih besar.

"Bu, sudah," ucapku panik, mencoba menahan lengan Ibu yang hendak terangkat lagi.

“Diam, Nur!” Ibu mendorong bahuku dengan sikunya. Cukup kencang. “Anak-anak itu harus diajari sopan santun kalau masuk ke rumah orang!” berangnya.

Aku terdesak maju setengah langkah ke arah pagar. Aku mengayunkan tangan ke arah jalan, mengusir bocah-bocah itu tanpa kata. Mereka sempat tertegun saling pandang, tampak ragu. Lalu, satu per satu mulai berbalik, berlari meninggalka area pemakaman.

Lihat selengkapnya