Aku menunggu sampai Ayah berhenti mencangkul. Sejak pagi aku mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan maksudku. Namun, ia terus bergerak lebih cepat daripada keberanianku. Saat sarapan, ia terburu-buru mengurus kebunnya. Saat aku mencuci piring, ia sedang menyemai bibit sayuran. Ketika aku menyapu halaman, ia sibuk memeriksa batang-batang singkong yang tertancap.
Barulah menjelang siang, ia berhenti. Ia duduk di atas tanah merah tanpa alas. Air mengalir dari kening hingga membasahi punggungnya. Aku menghampirinya, membawa segelas air.
Ayah menerimanya, menghabiskan air itu dalam satu tegukan panjang. Tanah di sini memang subur. Rumput dan pepohonan selalu memamerkan warna hijau cerah.
"Ada apa, Neng?" tanyanya tanpa benar-benar menatapku. Ia seolah tahu aku sedang mencari jeda untuk berbicara serius dengannya.
Aku menggosok telapak tangan ke rok, mencoba menata kalimat yang sudah kususun sejak subuh. "Yah, Neng mau ngomong sesuatu."
Ayah mengangguk kecil. Aku mengedarkan pandangan sebentar. Rasanya aku harus menyiapkan alasan untuk setiap kata yang akan keluar dari mulutku.
"Neng...” Aku menelan ludah sebelum melanjutkan. “Neng kepikiran mau ngajar les anak-anak SD di sini. Mungkin Ayah bisa bantu bilang ke warga."
Aku tetap menunduk, jemariku saling mengait, menunggu tanggapan Ayah. Apa pun jawabannya nanti, setidaknya aku sudah punya keberanian untuk menyampaikan keinginanku.
Ayah berdiri. Wajahnya bergerak sedikit ke arah makam-makam yang sunyi, lalu berpindah menatapku.
"Buat apa?" tanyanya.
"Biar… bisa bantu Ayah," jawabku. Aku tidak menyebutkan alasan yang lain. Aku tidak ingin menerima penolakan yang sama seperti pagi itu, ketika Ayah melarangku melamar pekerjaan.
"Buat apa?" Pertanyaan yang sama dilontarkan untuk kedua kalinya dengan nada yang lebih tinggi
Aku berusaha menjelaskan lagi bahwa niatku hanya ingin membantu kebutuhan rumah. Aku juga merasa sudah dewasa, punya tanggung jawab, dan ingin mengenal rasanya menguras keringat sendiri. Namun, Ayah tidak memberiku kesempatan berbicara lebih banyak.
"Ayah masih bisa kerja!" bentaknya. Ia melangkah dua kali ke samping, lalu membenarkan posisi cangkul di tanah. Setelah itu, ia menoleh lagi kepadaku. “Apa sebenarnya kamu tidak betah di rumah ini? Kamu tidak ingin merawat Ayah dan Ibu?”
Ucapan Ayah tidak sekadar berhenti di telingaku. Kata-kata itu menembus isi kepalu, mengendap sesak di dada. Setiap kali aku membicarakan masalah pekerjaan, Ayah selalu menuduhku ingin lari. Aku ingin membantah, tetapi tenggorokanku terasa menyempit.
“Sabar. Ayah juga sedang berusaha untuk membuat hidup kita lebih makmur. Tapi coba lihat orang-orang di luar sana. Banyak yang jauh lebih susah dari kita,” tandasnya dengan suara yang merendah.
Aku memandang tanah yang kupijak. Lagi dan lagi, Ayah mengajariku untuk bersyukur. Ia memintaku melihat kehidupan orang luar, padahal aku sendiri nyaris tidak pernah diizinkan ke mana-mana.
Ayah kembali mencangkul. Tak ada ruang lagi untuk bernegosiasi dengannya. Aku merasa tidak punya pilihan, tidak punya hak sebagai seorang anak.