Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #13

Bab 13: Penghidupan

Makanan itu masih ada di meja, termasuk yang ada di atas piring yang kubawakan untuk Ibu. Sepanjang malam, tidurku terus diselimuti oleh perkataan Ibu tentang makan dari daging orang mati. Aku tidak tahu. Pemikiran Ibu selalu sulit untuk kutelaah maksudnya.

Hanya Ayah yang memakan hidangan itu. Bahkan, ia tampak begitu lahap. Ibu tak mau keluar kamar, sementara aku berpura-pura tidak lapar. Semua yang dikatakan Ibu, jelas, memengaruhi persepsiku juga.

Aku berdiri di teras, memandang ke arah kuburan baru itu. Bau galian tanah basah masih menyeruak. Masih polos, tanpa nisan, hanya dua potongan batang bambu yang ditancapkan di kedua ujung. Namun, ada yang terlihat janggal. Gundukannya tampak lebih tinggi dari yang kulihat semalam.

Kuayunkan kaki beberapa langkah, mendekat ke pembatas pagar. Ada aroma bumbu yang mengalir ke hidungku, disusul bau manis yang terpanggang.

Benar. Persis seperti makanan yang ada di dapur: urap bihun dan ayam bakar. Aku menghirup udara lagi, memastikan sumber aroma tersebut. Tidak mungkin dari dapurku. Aku memang menghangatkannya, tetapi itu satu jam yang lalu untuk sarapan Ayah. Sementara, aroma ini terasa begitu hangat, seolah baru selesai dimasak.

Mungkinkah makanan dari orang yang meninggal menyisakan jejak? Inikah yang dimaksud oleh Ibu?

Aroma itu kian pekat. Aku mundur beberapa langkah, lalu berbalik menuju ke dalam rumah. Jantungku bagai dipukul dari dalam ketika kulihat Ibu sedang duduk di kursi ruang tengah.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Ibu. Matanya menyorot tajam kepadaku.

Aku menggeleng. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku. Rasanya setiap kata yang kuucapkan bisa menjadi cambuk untuk diriku sendiri.

“Orang itu telah pergi. Tapi keluarganya masih menangisinya.” Suara Ibu bergetar.

Aku memperhatikan matanya yang memerah. Terkadang, aku ingin benar-benar duduk di sampingnya, menjadi teman ceritanya, menjadi tempatnya mencurahkan segala isi pikirannya. Namun, ada jarak tak kasatmata yang membuatku selalu takut untuk menembusnya.

Ayah memanggilku. Suaranya bergema dari belakang rumah. Aku menunduk melewati Ibu. Ia menangis, dan aku membiarkannya sendiri.

“Neng, bantuin tanam bibit-bibit ini,” pinta Ayah.

Aku menjatuhkan satu per satu benih sayuran ke dalam bedengan persemaian yang dibuat Ayah. Katanya, beberapa jenis tanaman tidak bisa langsung ditanam di lahan, seperti cabai dan tomat. Benih-benih tersebut harus disemai lebih dulu sampai cukup kuat untuk dipindahkan.

Ayah, di sisi lain, menugal tanah yang sudah digemburkan. Satu per satu biji jagung dimasukkannya ke dalam lubang kecil, lalu ditutup kembali dengan tanah tipis. Ayah juga menanam biji kacang panjang di sisi sebelahnya.

“Kalau nanti ini semua udah tumbuh, hasilnya pasti lumayan. Kita mungkin bisa beli TV, beli baju baru, dan makanan yang enak,” ucap Ayah dengan mata berbinar. “Bahkan, kita bisa beli lagi rumah yang di bawah. Biar rumah ini jadi saung istirahat kita saja.”

Aku membalas Ayah dengan senyum tipis. Bukan karena aku tidak percaya pada masa depan. Hanya saja, janji-janji seperti itu sudah terlalu sering kudengar. Tentang hidup yang akan lebih mudah, panen yang akan melimpah, atau hari-hari yang sebentar lagi berubah. Semuanya terdengar indah, tetapi selalu berhenti sebagai harapan.

Meski begitu, aku tetap menunggunya menjadi kenyataan. Secepatnya.

Lihat selengkapnya