Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #14

Bab 14: Serupa

Aku mulai berjalan lebih jauh ke dalam pemakaman. Entah sudah berapa kali aku memandang tempat ini, baik dari jendela kamarku maupun dari depan rumah, tetapi baru sekarang aku benar-benar melangkah di antara tanah-tanah pembaringan tanpa tujuan, selain melihat.

Langkahku tidak tergesa. Sesekali aku berhenti di hadapan sebuah nisan, membaca nama yang terukir di atasnya, kemudian melanjutkan langkah lagi.

Beberapa nama masih terbaca jelas. Ada yang meninggal di usia delapan belas tahun. Ada yang empat puluh dua. Ada pula yang usianya melewati tujuh puluh.

Tanpa kusadari, nama-nama itu mulai menempel di kepalaku. Setiap pusara seolah memperkenalkan penghuninya sebentar sebelum kulewati. Aku tidak berniat menghafalnya. Namun, ketika melangkah beberapa petak lebih jauh, aku masih ingat nama yang baru saja kubaca.

Bentuk nisannya pun bermacam-macam. Sebagian dibuat dari keramik terang atau gelap yang telah berubah kusam dimakan cuaca. Sebagian lagi hanya papan kayu yang cat hitamnya telah memudar hingga mengaburkan beberapa huruf yang tercetak. Juga, yang lebih sederhana, sebongkah batu diletakkan di ujung gundukan tanah. Tanpa penanda siapa yang berbaring di bawahnya.

Langkahku melambat. Semakin lama kuperhatikan, semakin terasa ada satu kesamaan besar yang dimiliki makam-makam ini. Bukan bentuk atau usianya, melainkan kesunyiannya. Tak kulihat jejak bunga segar yang menghampar di atasnya. Tak ada yang membersihkan sisi-sisinya. Beberapa makam bahkan hampir kehilangan bentuk. Tanahnya mulai rata dengan permukaan sekitar, tertutup ilalang dan rumput liar yang tumbuh lebat.

Aku melihat ke belakang. Makam yang kemarin didatangi pria berpakaian rapi itu tampak berbeda sendiri. Bersih, pinggirannya rapi, bunganya masih utuh, seperti makam baru. Soal kerapian, Ayah memang tidak pernah setengah-setengah.

Selebihnya, pemakaman ini seakan dibiarkan dirawat oleh alam. Pelan-pelan dilupakan.

Aku kembali berjalan hingga bagian ujung pemakaman. Rumpun bambu tumbuh rapat di sana, menaungi beberapa makam.

Seorang lelaki tua duduk di atas batang bambu yang baru ditebang. Ia mengikis kulit luarnya sedikit demi sedikit dengan sebilah golok pendek. Tiap kali mata golok bergesekan dengan bambu, terdengar bunyi serak yang membuat tengkukku meremang. Potongan-potongan tipis berjatuhan di dekat kakinya, membentuk tumpukan kecil berwarna hijau kekuningan.

Aku bermaksud memutar arah, mengambil jalan yang baru saja kulalui. Namun, lelaki tua itu berdeham.

"Anaknya Pak Didi, ya?" ujarnya tanpa mengangkat kepala.

Langkahku tertahan. Aku mengambil jeda sesaat.

"Iya,” jawabku pelan.

Ia mengangguk kecil, lalu meletakkan goloknya ke tanah. Telapak tangannya mengusap serbuk bambu yang menempel di paha.

"Sudah mulai betah tinggal di sini?" tanyanya sambil menarik batang bambu.

Pertanyaannya terdengar ringan, tetapi aku tidak langsung menjawab. Aku sendiri belum tahu arti betah sejak pindah ke tempat ini.

"Masih membiasakan diri."

Lihat selengkapnya