Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #15

Bab 15: Bayangan

Sejak melihat Ayah seolah berada di dua tempat sekaligus, aku beberapa kali mencari alasan untuk keluar rumah. Kakiku selalu membawaku ke ujung pemakaman, berharap kembali bertemu lelaki tua itu.

Rumpun bambu tetap tumbuh lebat. Makam-makam masih tenggelam dalam kesunyian. Namun, lelaki tua itu tak pernah lagi kutemui.

Aku mulai meragukan sebagian dari ingatanku sendiri. Penglihatanku sore itu masih terasa begitu nyata, tetapi semakin kupikirkan, semakin sulit kupercaya. Jika itu saja bisa keliru, apakah aku benar-benar pernah berbicara dengan lelaki tua itu? Ataukah aku hanya berdiri terlalu lama di antara gundukan makam, lalu mengisi keheningan dengan percakapan yang sebenarnya tidak pernah terjadi?

Ayah. Lelaki tua itu. Dapur.  Tanah ini penuh dengan ketidakpastian.

Aku mencoba berpegang pada hal-hal yang masih bisa dijelaskan. Mencari alasan yang masuk akal untuk setiap kejadian yang mengganggu pikiranku. Selama masih ada penjelasan, sekecil apa pun, aku memilih memercayainya.

Katanya, gangguan itu bisa jadi merupakan bentuk perlindungan. Aku tidak tahu apa yang harus kulindungi dari semua ini, atau siapa yang sedang dilindungi. Sejak datang ke rumah ini, hidupku seakan terus berjalan ke arah yang tidak lagi bisa kutentukan sendiri.

Hari-hari tetap kulewati. Kadang terasa sangat panjang, tetapi lebih sering berganti tanpa ada cerita yang bisa kusimpan.

Belakangan ini, Ayah lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Ia pulang dengan cerita-cerita tentang warga yang meminta bantuannya memperbaiki atap bocor, memasang pagar bambu, atau membersihkan halaman. Ia juga begitu antusias membahas kebun dan berencana memperluasnya.

Ibu sebaliknya. Ia lebih sering duduk tanpa banyak bergerak. Suaranya tak pernah terdengar lagi. Bahkan, ketika aku menanyakan sesuatu yang ingin ia makan, ia sama sekali tak menyahut.

Membiasakan diri. Jawaban yang kuucapkan kepada lelaki tua itu. Terbiasa tanpa rasa, menyimpan segalanya sendiri. Cita-cita pun perlahan meredup, seolah cerita dongeng yang telah selesai dibacakan.

Sore ini, seperti biasa, aku menyiram kebun di samping rumah. Daun-daun jagung tampak lebih lebar daripada sebelumnya, batang singkong meninggi, dan kacang panjang mulai merambat pada ajir bambu. Benih cabai dan tomat yang kutanam beberapa minggu lalu pun sudah dipindahkan ke bedengan.

Suara langkah kaki terdengar dari jalan setapak. Ayah berjalan sambil memanggul sebuah gulungan besar di pundaknya. Keringat membasahi leher serta punggung bajunya.

"Ayah bawa apa?" tanyaku.

"Karpet," jawabnya sedikit terengah. "Buat atap kamar mandi. Ayah beli di kampung sebelah, di pabriknya langsung."

Ia menurunkan gulungan itu, lalu mengusap wajah dengan ujung lengan baju. Ia pasti berjalan kaki cukup jauh dengan sandal jepitnya yang tipis. Aku bergegas ke dalam rumah, mengambil air minum untuknya.

"Minum dulu, Yah." Aku mengulurkan gelas ke arahnya.

Ayah menerima dan menghabiskananya dalam sekali teguk. Aku melanjutkan menyiram tanaman. Masih ada beberapa baris yang belum terkena cucuran air. Sementara itu, Ayah duduk di tanah sembari meregangkan kaki.

Lihat selengkapnya