Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #16

Bab 16: Tersesat

Ayah terus mengerang di atas kasur. Setiap kali ia mencoba mengubah posisi, wajahnya langsung mengeras menahan nyeri. Pinggangnya tak lagi sanggup menyangga tubuh. Bahkan untuk sekadar memiringkan badan, ia harus menggigit bibirnya kuat-kuat.

Aku bolak-balik mengganti kompres. Air hangat yang semula terasa pas di telapak tanganku tak lama kemudian berubah dingin. Kain itu kuperas, kucelupkan lagi ke dalam baskom, lalu kutempelkan ke dahi Ayah.

Suhu tubuhnya terus naik. Ia menggigil tanpa henti. Setiap kali aku beranjak dari sampingnya, tangannya selalu mencariku.

"Yah... minum dulu," ujarku pelan sambil menyodorkan gelas ke bibirnya.

Ayah membuka mata sebentar. Bibirnya bergerak, tetapi aku tak mampu menangkap sepatah kata pun yang diucapkannya.

Aku menoleh ke luar jendela. Langit sudah sepenuhnya dikuasai malam. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku tidak tahu ke mana harus meminta bantuan.

Kakiku melangkah ke teras. Ibu duduk di kursi rotan dengan posisi yang sudah sangat kuhafal. Kedua tangannya terlipat di pangkuan. Tatapannya mengarah ke luar pagar, ke area pemakaman yang gelap. Ia tidak bertanya bagaimana keadaan Ayah. Bahkan, ia terlihat menghindari untuk masuk ke dalam kamar.

Aku menunggunya berkata sesuatu. Apa saja. Namun, kesunyian tetap lebih dulu memberikan jawaban.

Aku menarik napas panjang. Kembali ke dalam, memandangi Ayah yang terus memegangi pinggangnya. Aku lantas mengenakan sweater dan mengambil senter yang tergantung di dekat pintu dapur.

"Bu, tolong jagain Ayah dulu, ya," ucapku seraya menggenggam senter lebih erat.

Entah Ibu mendengarku atau tidak. Aku berharap ia mau bangkit ketika Ayah membutuhkan sesuatu.

Aku berjalan menuruni tangga teras. Kukumpulkan semua keberanian. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari balik semak. Angin malam menerpa wajahku. Ada perasaan aneh yang sulit dijabarkan.

"Ada yang mengikutimu." Ibu mengarahkan jari telunjuknya ke tanah.

Langkahku tertahan. Mataku menyapu ke bawah kaki, lalu berputar ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa.

“Bu… apa yang Ibu…”

Kutelan sisa pertanyaanku. Aku harus segera pergi. Setiap detik yang kulewatkan membuat Ayah semakin kesakitan.

Aku mempercepat langkah menyusuri jalan setapak yang membelah pemakaman. Cahaya senter bergoyang mengikuti ayunan tangan, sesekali menyibak nisan-nisan di kiri dan kanan jalan. Erangan Ayah terus terbayang di kepalaku, mendesakku untuk berlari.

Beberapa menit kemudian, aku tiba di warung tempat biasa membeli beras, minyak goreng, sayuran, dan kebutuhan pokok lainnya. Lampunya masih menyala. Barang dagangannya masih terhampar di luar.  Dari balik etalase kayu, Bu Warung tampak sedang menghitung uang. Melihatku lewat di depannya, ia mengangkat kepala.

"Mau ke mana, Nur? Tumben malam-malam gini keluar," tanyanya.

Lihat selengkapnya