Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #17

Bab 17: Di Atas

Suara itu masih terdengar, terus memanggil. Bahkan bukan sekadar terdengar, tetapi juga terasa menempel di belakang tengkukku.

"Neng."

Aku memutar badan perlahan. Sorot senter menyusuri jalan di belakangku. Cahayanya bergerak melewati barisan pagar, batang pohon, lalu berhenti pada ujung yang kosong.

Tak ada siapa pun. Hanya angin yang menggesek dedaunan hingga terdengar gemerisik. Aku menahan napas, memastikan pendengaranku tidak keliru.

"Nur!"

Kali ini suara lain memanggil. Aku memutar pandangan, lalu kembali menatap beranda rumah Pak RT. Pintu pagar di depanku kini terbuka lebar. Namun, tak kulihat siapa yang membukanya, tak kudengar pula bunyi dorongannya.

Seorang pria paruh baya berjalan menuruni teras. Langkahnya tergesa hingga sandal jepitnya beberapa kali menepuk lantai dengan nyaring.

"Kenapa masih berdiri di situ, Nur? Dari tadi saya panggil-panggil," ujarnya.

Aku memandangnya beberapa detik sebelum akhirnya mengenali wajahnya. Pak RT. Ia mengatakan memanggilku berkali-kali. Mungkinkah suara-suara itu miliknya semua?

“Ada apa, Nur,” tanyanya.

"Ayah..." Suaraku tercekat. "Ayah saya jatuh dari tangga."

"Jatuh?"  Pak RT melangkah lebih dekat. Tatapannya menelusuri wajahku sejenak.

Aku langsung mengiyakan. "Pinggangnya sakit, badannya panas tinggi. Saya... saya bingung harus bagaimana."

Pak RT menunjuk bangku panjang di teras. "Duduk dulu." Suaranya tetap tenang, seolah kepanikanku tak boleh ikut menguasainya. "Tarik napas dulu, cerita dengan santai."

Aku menggeleng. "Tolong, Pak. Tolong bantu ayah saya," mohonku sambil meremas ujung bajuku.

Pak RT tidak banyak bertanya lagi. Ia berbalik menuju garasi kecil di samping rumah, lalu memanggil salah satu keluarganya untuk membawakan kunci sepeda motor.

Mesin motor berderum setelah dua kali dicoba. Pak RT menyuruhku segera naik. Angin malam berdesir membelai rambutku, seakan membisikkan ancaman yang tak ingin kupikirkan.

Ayah pasti baik-baik saja.

Sepeda motor melaju membelah jalanan kampung yang lengang. Dingin menerpa tanpa ampun. Rumah-rumah, yang tadi terasa begitu jauh dilalui oleh kakiku, terlewati dalam sekejap mata. Tak lama kemudian, pagar bambu di bawah temaram sudah terlihat di depan.

Pak RT mematikan mesin sebelum motor benar-benar berhenti. Aku meloncat turun lebih dulu dan berlari masuk menuju kamar Ayah.

Akan tetapi, tempat tidurnya kosong. Selimut yang kubalutkan untuk menutupi tubuh Ayah terlipat berantakan di ujung ranjang. Sementara, baskom berisi air hangat masih berada di lantai. Kain kompres mengambang di permukaannya. Gelas minum yang sempat kusodorkan juga belum berpindah dari posisinya.

Dadaku mengencang hingga setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Ke mana Ayah pergi? Mungkinkah ia memaksa tubuhnya untuk berjalan?

Lihat selengkapnya