Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #18

Bab 18: Ayah

Tungku sudah menyala. Kayu bakar di bawahnya sesekali mengeluarkan bunyi letupan kecil, sementara panci di atasnya belum mengepulkan uap sedikit pun. Aku duduk di bangku pendek di depannya, menatap nyala api yang bergerak tanpa tujuan.

Tanganku seharusnya sudah menanak nasi, mencuci sayur, atau menjemur baju di halaman depan. Namun, aku malah menghabiskan banyak waktu dengan diam. Pikiran berkelana ke tempat-tempat yang tidak kuinginkan.

Aku bangkit dari bangku. Berjalan ke pintu belakang, berhenti sejenak, lalu berputar kembali ke dapur.

Air di dalam panci mendidih. Tutupnya bergetar pelan, mengeluarkan bunyi sumbang yang memecah keheningan. Aku membiarkannya hingga air meluap dan memadamkan sebagian bara di bawah tungku. Bara itu mendesis pelan, disertai asap tipis mengembus ke wajahku.

Aku mengangkat panci itu, meletakkannya di samping tungku. Gerakanku mengalir karena kebiasaan.  

Rumah memang sudah kembali tenang. Ayah tidak lagi mengerang panjang. Hanya saja, ketenangan ini sama sekali tidak menenteramkan. Semalam, waktu terasa begitu panjang dan mencekam.

Ayah mengaku sempat meminta minum. Ia mendengar langkah kaki mendekat. Sesaat kemudian, ada dorongan keras dari samping hingga tubuhnya terjepit di celah antara ranjang dan dinding di bawahjendela. Karena yang berada di rumah hanya kami bertiga, ia menduga Ibu yang melakukannya.

Ibu tidak langsung menjawab. Ia mengangkat dagu ke arah jendela. Katanya, yang mendorong Ayah bukan dirinya, melainkan bayangan itu.

Jawaban mereka saling bertolak belakang, tetapi tak satu pun terdengar seperti kebohongan. Mereka tak pernah berhenti melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru di benakku.

"Neng…"

Suara Ayah memanggil dari dalam kamar. Aku tersentak, teringat alasan merebus air. Kubuka tutup panci, menuangkannya ke dalam gelas, lalu menambahkan air dingin dari teko.

Ayah berbaring telentang. Wajahnya masih pucat. Napasnya masih berat.

"Minum dulu, Yah," ujarku sambil menahan bagian bawah gelas.

Ayah berupaya menegakkan punggungnya. Tangannya bertumpu pada kasur, tetapi rahangnya seketika mengeras.

"Nggak usah dipaksa," ucapku, menghentikannya.

Aku mengambil sendok di dapur, lalu kembali ke sisinya. Kusuapkan air hangat ke bibirnya. Sebagian berhasil ditelan, sebagian lagi mengalir di sudut mulutnya.

Mungkin Ayah butuh pengobatan yang serius. Mungkin ada luka dalam, atau cedera tulang. Masalahnya, bagaimana aku membawanya ke puskemas? Meminta tolong kepada Pak RT lagi?

“Neng rasa… lebih baik Ayah diperiksa,” ucapku sambil menyusun kata-kata di kepala untuk bertemu Pak RT lagi. “Neng takut—”

Ayah meraih lenganku. “Besok juga sembuh, Neng,” ucapnya dengan suara berat, nyaris berbisik.

Lihat selengkapnya