Aku membuka tempayan beras di sudut dapur untuk kesekian kalinya. Jari-jariku menyapu dasarnya yang dingin dan kasar, tetapi tak ada satu butir pun yang tersisa.
Kubiarkan tutupnya terbuka beberapa saat, berharap masih ada segenggam beras yang terlewat dari pandangan. Wadah itu tetap kosong. Pandanganku beralih ke rak kayu di sampingnya. Hanya ada beberapa siung bawang yang mulai mengering, sedikit garam di dalam toples plastik, dan sebotol minyak goreng yang isinya hampir tak terlihat.
Tak ada lagi yang bisa dimakan hari ini. Mungkin.
Aku melangkah ke belakang rumah. Kebun kecil yang beberapa minggu lalu kutanami bersama Ayah sudah tumbuh lebat. Sayangnya, belum ada yang bisa dipanen. Tanaman-tanaman itu baru mulai berbunga.
Kakiku berputar, berkeliling mencari udara segar, mencari harapan yang mungkin masih disembunyikan pagi. Lalu, aku berdiri di halaman.
Suara batuk Ayah yang berat memutus kesunyian. Aku segera memeriksa keadaannya. Ia duduk membungkuk di atas ranjang. Sebelah tangannya menekan dada, sementara tangan yang lain mencengkeram kasur.
Batuknya baru mereda setelah kusodorkan segelas air hangat. Ia meneguknya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya yang lemas pada kepala ranjang. Wajahnya sedikit lebih tenang, tetapi tarikan napas masih belum teratur.
"Ayah tunggu sebentar, ya," ucapku. "Neng ke warung dulu beli obat." Padahal, aku sama sekali tak memiliki uang.
Ayah meraih pergelangan tanganku. Ia menunjuk ke celana kerjanya yang tergantung di balik pintu. “Kalau tidak salah, Ayah nyimpen uang di sakunya.”
Kuturunkan celana itu, dan menemukan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang sedikit kusut. Aku menggenggamnya cukup erat.
"Kita ke puskesmas, ya, Yah?" bujukku lagi, meski aku bisa menebak jawaban yang akan ia berikan.
“Neng belanja buat makan aja. Di dapur udah nggak ada apa-apa, kan?” lirihnya. “Ayah udah mendingan. Mungkin besok udah bisa kerja lagi.”
Kalimat yang sama. Ia tetap mengucapkannya, seolah berharap rasa sakit itu akan luluh jika terus diulang-ulang.
Aku mengembuskan napas pelan, lalu beranjak pergi berbelanja. Sepanjang jalan, bayangan-bayangan buruk silih berganti memenuhi kepala. Bagaimana jika besok Ayah belum juga membaik? Bagaimana jika ia tak bisa bekerja lagi? Bahan makanan yang bisa kubeli hanya cukup sampai besok pagi. Selebihnya, aku bahkan tak berani memikirkannya.
Sesampainya di rumah, aku langsung memasak. Tanpa sadar, pandanganku jatuh ke arah kamar mandi. Andai waktu itu aku tidak terus meminta dibuatkan atap. Andai saja aku cukup sabar menikmati segala keterbatasan di rumah. Ayah tidak akan pernah jatuh dari tangga.
Setelah sarapan dan minum obat, Ayah kembali tertidur. Di meja makan, Ibu duduk sendiri mengunyah makanan tanpa bersuara. Aku membiarkannya, setidaknya ia tidak lagi mengurung diri di teras.
Halaman depan dipenuhi daun-daun kering yang berguguran. Kusapu perlahan dari teras menuju arah pagar. Daun-daun itu bergeser mengikuti arah sapuku, sebagian tertiup angin hingga melewati batas halaman. Tanpa memperhatikan langkah, aku tersadar telah berdiri jauh di antara deretan makam ketika ujung sapu membentur sebongkah batu nisan. Ayunan tanganku terhenti seketika.
Daun-daun yang menumpuk di sekitar makam tampak jauh lebih banyak daripada di halaman rumah. Rumput liar pun tumbuh lebat menutupi gundukan tanah. Aku memandangi makam itu sesaat. Kemudian, aku berjalan ke kebun untuk mengambil arit yang biasa Ayah gunakan.