Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #20

Bab 20: Suara

Suara berisik dari kamar Ayah dan Ibu membangunkanku. Aku membuka mata perlahan. Rumah masih gelap. Napasku tertahan sesaat, mencoba memastikan suara itu benar-benar ada atau terbawa dari mimpi.

Namun, beberapa detik kemudian terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Dua orang sedang berbicara dengan nada tinggi.

Aku bangkit dan duduk di tepi kasur. Selama tinggal di rumah ini, aku hampir tak pernah merasakan ketenangan dalam merengkuh mimpi.

"Kamu mau menikahkan anakmu dengan orang yang sudah beristri?" Suara Ibu memekik di tengah malam. "Di mana pikiranmu? Apa kamu belum puas menghancurkan hidup aku dan dia? Apa kamu pikir dengan menikah dia akan bahagia? Sebagai seorang ayah, pemimpin keluarga, seharusnya kamu bisa mencari solusi. Semua ini kan karena salahmu juga."

Aku memejamkan mata, merasakan suaranya lebih dalam. Ia tidak terbata-bata. Tidak lirih seperti biasanya. Setiap katanya terdengar utuh. Perempuan yang selama ini hanya diam seolah kembali menjadi dirinya yang dulu.

"Dia anak yang pintar," lanjutnya. "Dari SD sampai SMA selalu jadi juara satu. Seharusnya kamu mendorong dia untuk berhasil. Tapi karena keegoisanmu, kamu membunuh cita-citanya."

Suara Ayah segera menyela. "Membunuh cita-citanya? Apa maksudmu? Aku cuma memperlakukannya sebagai perempuan. Perempuan tidak punya kewajiban bekerja. Pendidikan tinggi, buat apa? Dia sudah mendapatkan lebih dari cukup."

"Ini bukan soal dia perempuan atau bukan. Dia berhak atas hidupnya sendiri," balas Ibu.

Ayah membentak dengan satu lengkingan pendek. Perdebatan mereka terjeda sesaat sebelum akhirnya Ibu kembali berbicara.

"Kamu menjual rumahku. Membawa kami ke tempat yang dipenuhi setan seperti ini. Kamu bilang semua akan lebih baik. Sekarang lihat! Apa yang berubah? Berapa lama lagi aku dan anakku melewati malam-malam paling sepi di tempat ini?" pungkas Ibu.

Desahan napas Ayah terdengar berat. Aku merapatkan telinga ke dinding.

"Kamu selalu merasa bisa membahagiakan kami," ucap Ibu lagi. Merendah, tetapi setiap kalimatnya terasa jauh lebih tajam. "Nyatanya apa? Sekarang kamu bahkan tidak bisa bekerja. Bangun dari tempat tidur saja kesusahan. Lalu, bagaimana kamu mau memenuhi kebutuhan kami?"

Ayah tidak menjawab. Hening mendekam beberapa saat.

Kemudian, bunyi keras memecah malam. Ingatanku terasa mengenalinya. Sewaktu aku masih kecil. Bunyi itu selalu disusul dengan isakan panjang.

"Diam!" bentak Ayah.

Ibu terdengar menarik napas patah-patah. Sesudah itu, tak ada lagi yang terdengar selain deru angin malam yang bertarung dengan suara serangga.

Kedinginan menyelimutiku dengan perasaan tak menentu. Aku tetap duduk di atas ranjang. Kedua tanganku saling menggenggam. Aku menunggu cukup lama. Berharap salah satu dari mereka kembali berbicara. Mungkin suara Ibu yang kembali melawan, atau Ayah yang melafalkan permohonan maaf.

Lihat selengkapnya