Aku terus memijat kaki dan tangan Ayah dengan minyak gosok. Mencoba mengurangi rasa dingin yang ia keluhkan. Namun, ia terus menggigil. Jauh lebih hebat daripada sebelumnya, disertai batuk yang juga lebih dalam.
Selimut yang menutupi tubuhnya ikut berguncang. Rahangnya saling beradu. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Kubetulkan bantal di bawah punggung Ayah agar posisinya sedikit lebih tegak. Ia memberi isyarat agar kutambahkan selimut. Lapis demi lapis kain menutupi tubuhnya, tetapi gemetarnya tak juga berhenti.
Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Kepalaku dipenuhi berbagai kemungkinan, tetapi semuanya saling bertabrakan hingga tak menyisakan satu keputusan pun.
Ayah memandangiku. Matanya merah. Kemudian, pandangannya beralih kepada Ibu. Ibu hanya duduk, tertunduk lesu, dengan air mata yang tak diusap. Aku takut membaca raut wajah Ibu.
"Nan…" Ayah memanggil Ibu. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Ibu bergeming. Tatapannya tetap melekat pada ujung bajunya. Aku berdiri cepat hingga lututku membentur sisi ranjang.
"Bu, aku ke rumah Pak RT dulu," ucapku menarik napas dalam-dalam.
Ibu mengangkat kepalanya. Ia mencoba meraih tanganku. "Jangan! Tetap di sini."
"Kenapa jangan?" tanyaku, berusaha menahan kepanikan yang menumpuk di dada. "Kita nggak mungkin membiarkan Ayah seperti ini terus."
Bibir Ibu bergetar. Ia kembali menggeleng, melarangku pergi. Aku menatapnya tak mengerti. Ayah terus merintih kesakitan. Kondisinya sudah sangat parah. Mengapa Ibu justru melarangku mencari bantuan?
"Aku pergi," tegasku, sedikit membentak. "Tolong jaga Ayah sebentar, Bu!"
Aku keluar kamar, lalu meraih senter yang tergantung kusen jendela ruang tengah. Tanganku menggenggam gagangnya dengan kuat. Kutahan air mata yang mendesak keluar.
Sebelum pergi, aku menoleh ke dalam kamar. Batuk Ayah tak lagi terdengar. Mungkin mulai mereda. Tekadku tetap bulat. Aku berjalan melewati ambang pintu tanpa melihat lagi ke belakang. Namun, saat menuruni teras, kakiku terasa berat seolah ada yang menahan.
“Neng…”
Aku mendengar suara Ayah memanggil. Tidak terdengar kesakitan. Malah terlalu tenang. Aku berbalik. Langkahku terhuyung.
Wajah Ayah pias. Matanya terbuka, tetapi tidak bergerak. Aku membentangkan telunjukku di bawah hidungnya. Tidak ada embusan napas yang terasa. Hanya kulitnya yang dingin yang membuatku terduduk lesu. Aku mengangkat telunjukku, dan melakukannya lagi.
"Ayah!" Kuguncang bahunya. Tubuhnya hanya bergeser mengikuti sentuhanku. Bibirnya mengatup rapat. Tak bergerak. Tak bersuara.
“Bangun, Yah! Bangun!”