Suara tangis, percakapan, dan derap langkah berganti dengan kekosongan yang kembali mendiami rumah. Orang-orang yang sejak pagi memenuhi ruang tengah telah berangsur pulang. Kursi-kursi dikembalikan ke tempat semula. Tikar digulung, diletakkan lagi ke pojok. Hanya ada bekas telapak kaki yang masih terlihat di lantai dan bau minyak gosok yang tertinggal di udara.
Aku duduk di teras, di kursi yang biasa ditempati Ibu. Sekilas, tak banyak yang berubah. Sandal Ayah masih berbaris di halaman. Tali jemuran masih membentang dengan beberapa baju Ayah yang compang-camping—yang biasa digunakan untuk berkebun. Makam-makam pun tetap rebah di bawah sengat matahari.
Berjam-jam aku termenung. Dalam otakku, Ayah sebentar lagi pulang ketika gelap turun. Aku tidak mau membayangkan hari esok, lusa, atau seterusnya. Bahkan, jika waktu bisa kutahan, aku akan menerima ketidaksempurnaan rumah ini.
Masalahnya, pikiran tak bisa kuatur sesukaku. Situasi pagi dan ucapan orang-orang merayap ke dada. Setiap tarikan napas serasa akar yang tercerabut. Terutama, ketika Uwa mengatakan bahwa Ibu gila. Keluarga besar Ayah menganggap bahwa mereka yang paling kehilangan. Mereka memberikan label, meninggalkan tuduhan, seolah aku dan Ibu yang menciptakan duka ini.
Aku memutuskan masuk ke dalam, menengok kondisi Ibu. Ia masih dengan posisi yang sama, tetapi matanya terpejam.
Pandanganku lantas tertuju pada baju-baju Ayah yang tergantung di balik pintu. Jaket lusuh yang biasa dipakainya saat berangkat bekerja masih tersangkut pada paku daun pintu. Sarung yang sering dikenakannya terlipat seadanya di atas kursi. Celana kotornya tergeletak di lantai.
Aku mulai membereskannya. Satu per satu pakaian kuturunkan, lalu kumasukkan ke dalam ember. Aku akan mencucinya besok pagi.
Rasanya aneh, sebab Ayah selalu memakai pakaian yang sama berulang. Ia baru akan memintaku mencucinya ketika dirasa sudah penuh oleh bekas keringat.
Benar. Bagaimana jika nanti ia pulang? Bagaimana jika ia membuka pintu, dan bertanya mengapa pakaiannya aku bereskan?
Kubawa lagi pakaian itu ke gantungan, meletakkannya ke tempat awal. Beberapa saat kemudian, kuturunkan kembali. Aku sendiri tak mengerti sedang melakukan apa.
Menjelang malam, rumah tetap tak mengeluarkan suara. Tak ada langkah kaki yang berhenti di depan pagar. Tak ada suara batuk yang biasanya terdengar lebih dulu sebelum pintu dibuka. Tak ada yang memanggil namaku dari teras atau meminta segelas air setelah seharian berjalan kaki.
Ayah, apakah Ayah sudah tertidur nyenyak? Di mana rumah Ayah yang baru jika aku ingin mengunjungi Ayah? Mengapa mereka tega, Yah?
Aku keluar dari kamar, menuju dapur, berdiri di ambang pintu. Meja makan menjadi pajangan. Tungku di sudut ruangan tampak kedinginan.
Hari pertama pindah ke rumah ini, aku benci cara memasak tradisional. Aku berjongkok lama hanya untuk menyalakan api. Setelah menyala, aku harus berjuang mengatur kayu bakar supaya asap tidak menyerang mukaku.