Aku masih berdiri di ruang tengah. Suara itu kembali terdengar. Sayup-sayup. Hanya beberapa patah kata yang terseret angin dari teras, lalu hilang. Setelahnya, hening panjang. Mungkin giliran Ibu berbicara.
Pikiranku dipenuhi harapan yang tak semestinya tumbuh. Aku berjalan pelan, takut jika suara sekecil apa pun akan memutus percakapan yang sedang berlangsung di luar sana. Ubin bergetar lirih setiap kali kupijak. Dinding-dinding seakan saling menatap.
Sinar sore merembes melalui pintu depan yang terbuka lebar. Teras terlihat lengang. Tidak ada siapa-siapa.
Hanya Ibu. Ia duduk di kursi kayu dengan bahu sedikit membungkuk. Di atas pangkuannya terhampar kemeja berwarna cokelat muda itu. Jemarinya menekan-nekan lipatan kain yang nyaris tak terlihat. Gerakannya sabar dan hati-hati, seolah kemeja itu akan segera dikenakan seseorang.
"Teganya kamu, Mas. Mau pergi, tapi nggak mau ngajak aku," gumam Ibu.
Suaranya sepertinya sedang merajuk. Merutuk pada kemeja yang ada di genggamannya, atau mungkin pada bayangan yang hanya ia sendiri yang bisa melihatnya.
"Kamu bawa segalanya." Tangannya berhenti mengusap. Tak lama, ia menarik paksa bagian kerah kemeja itu. Kancing-kancingnya terlepas, bergulir di lantai. “Kamu hanya berjanji dan berjanji bahagiakanku. Nyatanya, kamu sengaja buat aku membusuk di sini.”
Jari-jarinya kemudian mencengkeram bagian bahu. Tarikannya makin kuat. Kemeja itu terbelah sedikit demi sedikit.
"Harusnya..." Napasnya terputus sebentar. "Harusnya kamu bunuh saja aku sebelum kamu mati!"
Kemeja itu akhirnya koyak menjadi dua bagian. Ibu mengangkat kepala, menyandarkannya ke dinding. Potongan kain yang terpisah masih digenggam di kedua tangannya. Ia tak bergerak, tak lagi berbicara. Angin memainkan ujung rambutnya yang tergerai.
“Nan…”
Aku terkesiap. Suara itu. Aku mencari sumbernya. Ibu pun setengah berdiri, matanya bergerak liar ke kanan dan kiri.
“Mas!” pekik Ibu.
Dadaku terasa menyempit. Aku maju beberapa langkah, tetapi kemudian aku menyadari bahwa panggilan itu mungkin berasal dari jarak yang sangat jauh.
Ibu mengitari teras sambil mengibas-ngibaskan potongan kemeja dengan kasar. Aku terduduk di lantai. Kedua telapak tanganku menutupi wajah. Hangatnya air mata mulai meresap di sela-sela jari.
Sejak Ayah pergi, aku terus berkata kepada diriku sendiri bahwa aku tak boleh menangis lagi. Demi Ibu, atau demi bisa keluar dari tempat ini. Setidaknya, salah satu dari kami harus tetap kuat.
Ibu melangkah tergesa menuruni anak tangga teras. Potongan kemeja di tangannya dikibas-kibaskan tanpa arah.
“Ibu mau ke mana?” Aku berlari menyusul, menyambar lengannya sebelum kakinya menjejak tanah halaman.
Ia memberontak, menepis jemariku sembari melemparkan pandangan liar ke arah deretan nisan. “Lepas! Aku mau pulang.”
“Rumah kita di sini, Bu,” bisikku, meremas lengannya lebih erat demi menahan getar di tenggorokan.
Ibu memutar kepala, menatapku tajam. Tatapan itu bertahan cukup lama sebelum akhirnya kehilangan arah. Tubuhnya yang semula menegang mendadak lunglai. Tanpa berkata apa-apa lagi, kubimbing ia kembali ke kamar dan membaringkannya di ranjang.