Aku menutup rapat jendela dan pintu kamar. Ibu berbaring di kasur dengan selimut berlapis-lapis. Sementara itu, aku bersandar di belakang pintu dengan tubuh gemetar.
Suara-suara itu terus mengetuk gendang telinga. Namun, aku tak tahu kapan suara-suara itu mulai menghilang. Aku pun tak ingat kapan akhirnya tertidur. Mungkin menjelang dini hari ketika aku sudah terlalu lelah untuk terus berjaga.
Saat aku membuka mata, pakaianku sudah terasa kering. Remang pagi merambat dari bawah kakiku. Rumah sunyi. Ibu tampak masih terlelap.
Lantai sedikit licin. Masih ada sisa kebocoran yang belum menguap. Baskom yang menampung air penuh. Aku mengangkatnya, lalu membuang isinya ke halaman belakang.
Tanah lembap. Daun-daun tanaman tampak lebih segar dibanding kemarin. Aku memeriksa kamar mandi. Pompa air itu diam. Tak bergerak sedikit pun.
Aku memalingkan wajah. Jangan dipikirkan lagi.
Saat kembali masuk ke dalam rumah, kulihat Ibu sudah berganti posisi. Ia menegakkan badan sambil menatap bajunya sendiri. Ia meraba kain di bagian lengan dan mengusap ujung rok.
Keningnya berkerut. "Nur."
Aku menghampirinya. "Iya, Bu?"
Tatapannya beralih kepadaku. Kosong. Benar-benar kosong.
"Kenapa baju Ibu basah?" tanyanya.
Aku tertegun. Kemarin ia berdiri di bawah hujan sambil memanggil-manggil Ayah. Kini, ia hanya mengusap lengan bajunya seperti seseorang yang baru bangun dari tidur siang. Namun, bukan itu yang membuatku bernapas lega. Tak ada amarah dalam suaranya.
Ia menunggu jawabanku. Aku hanya menggeleng kecil. Ia kembali bertanya. “Ini di mana, Nur?”
Pertanyaan itu menghantamku. Mungkinkah Ibu kehilangan sebagiannya ingatannya? Aku tak tahu mana yang lebih menakutkan. Suara-suara yang memenuhi rumah semalam atau kenyataan bahwa Ibu tak mengingat sedikit pun yang telah terjadi.
“Bu…” Aku menutup kembali mulutku. Ibu berjalan keluar kamar, mengarah ke dapur.
Ketukan pintu di depan rumah menggetarkan seluruh tubuhku. Aku mematung, memastikan bunyi itu bukan sisa-sisa kengerian yang tertinggal.
Ucapan salam lantas menggiring kakiku bergerak. Aku hafal suara yang datang.
Pak RT berdiri di balik pintu. Wajahnya tampak letih, mungkin baru selesai berkeliling kampung.
"Bagaimana keadaanmu, Nur?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Baik."
"Ibumu?" Pak RT menatap ke dalam.
"Masih seperti biasa," jawabku. Aku masih ragu untuk bercerita tentang kondisi Ibu yang sebenarnya kepada siapa pun.