Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #25

Bab 25: Roti

Aroma manis sudah tercium, bahkan sebelum aku sampai di depan bangunan ini. Bangunannya tak besar. Dindingnya masih berupa bata yang belum diplester seluruhnya. Asap tipis mengepul dari cerobong pendek di bagian belakang. Beberapa orang hilir mudik membawa karung tepung, loyang, dan keranjang dari anyaman bambu. Mereka terlihat sangat sibuk, seolah tak ada satu detik pun yang terbuang percuma di tempat ini.

Aku berdiri di depan pintu, mengeratkan genggaman pada ujung bajuku. Inilah pertama kalinya aku datang ke sebuah tempat untuk mencari pekerjaan. Aku tak membawa map berisi kertas-kertas lamaran. Hanya ada tekadku untuk bekerja demi bertahan hidup.

Seorang pria dengan langkah yang cepat menghampiriku. Kaus hitamnya dipenuhi bercak tepung, sementara sebuah pensil terselip di telinga kanannya. Aku memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudku.

Ia sempat bertanya apakah aku pernah bekerja sebelumnya. Aku menggeleng. Tatapannya turun sebentar, memperhatikan tubuhku yang kurus.

"Kuat panas?" tanyanya sambil memeriksa catatan di dinding.

Aku menunduk sebentar, menarik napas pelan. "Saya coba, Pak."

Tak ada pertanyaan lain. Ia lalu menjelaskan jam kerja dari pukul 07:00 – 16:00. Upah bisa dibayar mingguan atau harian dengan nilai lima puluh ribu per hari. Aku langsung mengatakan siap, tanpa berpikir lama.

"Kamu bisa mulai kerja hari ini," tandasnya.

Aku sempat mengira salah dengar. "Sekarang, Pak?"

Ia menoleh ke deretan rak roti. "Umah!" serunya.

Seorang perempuan berhijab menutup buku catatannya. Ia bergegas berjalan ke arah kami.

"Karyawan baru. Tolong ajarin!" jelas sang pemilik.

Perempuan berhijab itu mengangguk. Ia mengayunkan tangan kanannya sesaat.

"Saya Umah," ujarnya. “Ikuti saya.”

"Nurhasanah. Biasa dipanggil Nur," balasku.

Langkahnya nyaris berlari. Jantungku terasa kewalahan mengejarnya. Aku mengikutinya memasuki ruang produksi.

Hawa panas langsung menyergap tatkala melewati ambang pintu. Wajan-wajan raksasa bertengger di atas tungku besar. Meja panjang berbaris memuntahkan aroma mentega dan roti yang baru matang. Dua orang sedang menguleni adonan secara manual. Beberapa pekerja lain mondar-mandir membawa keranjang-keranjang bambu yang masih mengepulkan uap.

Teh Umah berhenti di depan hamparan roti yang sudah mendingin. "Kamu nanti di bagian pengepakan. Tapi bisa juga diperbantukan di bagian produksi kalau permintaan roti lagi banyak."

Ia mengambil sesuatu dari rak. "Selama kerja, kamu harus pakai masker dan penutup kepala.”

Lihat selengkapnya