Hari-hariku mulai memiliki pola. Sebelum fajar menyapa, aku sudah bangun untuk menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, lalu menyiram kebun. Sepulang bekerja, aku masih harus mengulang hal serupa. Ketika aku tidak ada, Ibu bermain dengan apa pun yang ada di dalam rumah.
Tubuhku perlahan terbiasa dengan tambahan rutinitas baru. Termasuk, rasa pegal di bahu, telapak tangan yang perih, serta lelah yang berubah menjadi kebas.
Setiap kali aku membuka pintu kamarnya, Ibu selalu duduk menghadap jendela. Kadang bibirnya bergerak halus, seperti sedang menimpali sebuah percakapan. Di waktu yang lain, ia tertawa sendiri. Tawa pendek yang diakhiri isakan berat. Pernah suatu sore ia memanggil nama Ayah berkali-kali sambil menatap halaman belakang.
Awalnya, aku selalu menghampirinya. Kini, tidak lagi. Bukan karena aku tidak peduli. Aku hanya kehabisan cara dan tenaga.
Selama ia tidak pergi ke mana-mana, kubiarkan ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Aku ingin merenda tujuan. Keluar dari rumah ini. Hidup sebagaimana seharusnya seseorang hidup.
Malam turun membawa sunyi yang sudah lekat dengan memoriku. Kelopak mataku memberat. Aku tak sempat memikirkan apa pun. Seusai memastikan semua pintu terkunci, aku menjatuhkan diri di kasur.
Entah bagaimana, aku duduk di belakang Ibu. Rambutnya tergerai panjang menutupi punggung. Di tanganku ada sisir kayu yang biasa kupakai semasa kecil setiap kali Ibu mengepang rambutku.
Bilah kayu itu membelah lurus helai-helai rambut Ibu yang memutih di beberapa bagian. Namun, tatkala kumasukkan kembali dari batas dahi, gerak geriginya mendadak tersendat.
Aku mengernyit. Jari-jariku menyusuri rambut Ibu, mencari penyebab yang menghalangi laju gigi-gigi sisir.
Aku terkesiap. Tampak sesuatu yang kecil, berwarna hijau keruh, menyembul di antara helaian rambut. Mirip tunas yang menembus permukaan tanah. Aku merasa telah menemukannya.
Mungkin tunas itu yang menjadi penyebab semua perubahan Ibu. Mulai dari tatapannya yang selalu kosong hingga racauannya yang selalu ingin pulang. Mungkin pula, semua sumber suara yang ada di rumah ini berasal darinya.
Aku mencoba mencabut benda aneh itu dengan ujung jari. Tak bergerak sedikit pun. Pangkalnya melekat kuat. Aku memberi sedikit tekanan, tetapi tunas itu seolah tertanam ke dasar kepala Ibu.
Tanpa tahu dari mana datangnya, sebuah gunting telah berada di tanganku. Kugunting pangkal tunas itu. Berhasil. Hanya saja, sisa batangnya justru tumbuh memanjang.
Aku kembali menyentuhnya. Kurasakan teksturnya. Kasar dan keras. Sama sekali tidak seperti batang tunas yang halus. Lebih menyerupai kulit pohon tua.
Ibu mendelik sekilas. Aku mengerahkan seluruh tenagaku. Akar tipis mulai keluar. Sedikit, tetapi tak habis-habis. Semakin kutarik, semakin banyak yang mencuat dari balik kulit kepala Ibu. Bercabang-cabang dan saling melilit satu sama lain.
Akhirnya, tarikan terakhir membuat seluruh akar itu terlepas, menyisakan lubang yang dalam. Ibu menjerit keras. Cairan lengket hitam pekat dan berbau busuk mengalir, membasahi tengkuknya.
Kakiku bergerak mundur beberapa langkah. Aku sulit mengatur napas dengan benar. Detak jantungku berpacu liar. Suara sekecil apa pun terdengar begitu dekat.