Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #27

Bab 27: Menginap

Bahuku terasa berat. Kakiku serasa lumpuh. Bayangan itu terus menjejali isi kepalaku. Rambut. Akar. Dari mimpi hingga kejadian roti di belakang pabrik tadi.

Sepanjang perjalanan pulang, aku sempat berhenti beberapa kali untuk menepuk-nepuk pipiku. Mungkin aku belum terbangun, atau mungkin pikiranku masih belum bisa bebas. Kadang, rasa kesal sudah lebih dulu menyapaku sebelum kakiku memasuki pagar rumah.

Jalanan sore tetap ramai seperti biasanya. Asap dari dapur-dapur warga naik tipis ke udara, membawa aroma asin, manis, dan gurih secara bersamaan. Canda tawa mengalun, merayakan pergantian waktu.

Rumahku tampak sunyi dari kejauhan. Selalu begitu. Hanya ada satu orang yang sering memenuhi teras. Namun, kali ini, ia berdiri tanpa bergerak. Tatapannya lurus ke jalan, seolah sedang menungguku.

Begitu melihatku, kedua tangannya terangkat. Tak ada senyum atau sapaan. Ia hanya lebih dulu meminta yang biasa kubawakan untuknya.

Aku menghampirinya. Aku pun sama, mengunci mulutku rapat. Menyodorkan sebungkus roti tanpa membuka bungkusnya.

Ibu tampak kelaparan. Ia menyobek bungkus plastik dengan tergesa. Melahap roti itu dengan gigitan besar. Aku menghela napas, lalu berjalan ke dalam.

Akan tetapi, langkahku terhenti di ambang pintu. Telapak kakiku menginjak cairan yang terasa sedikit hangat dan lengket. Seketika, aroma pesing naik ke hidungku.

Aku melihat bagian depan rok Ibu. Warnanya lebih gelap. Air menetes dari ujung kain, membasahi lantai teras yang berdebu.

Mataku turun ke kakinya, lalu kembali ke wajahnya. Aku terpaku. Ia terus mengunyah. Tak sedikit pun raut wajahnya menyiratkan apa-apa. Dadaku bak diremas. Semua lelah bertumpuk menjadi satu di pikiran.

"Bu," lirihku.

Ibu menjilati ujung jarinya yang terkena isian cokelat. Aku memanggilnya sekali lagi. Ia tetap tidak menoleh ke arahku.

Aku memejamkan mata sesaat. Bukan. Bukan begini.

Aku bekerja setiap hari. Aku pulang membawa makanan. Aku berusaha membuat rumah ini tetap berdiri. Mengapa rasanya tidak ada jeda untuk beristirahat? Bagaimana caranya supaya Ibu sadar atas apa yang dilakukannya? Setidaknya, biarkan aku duduk terlebih dahulu. Bukan malah memaksaku membereskan kekacauan lain.

"Ibu!" Suaraku memecah halaman.

Mata Ibu membesar. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi tak satu pun kata terucap.

"Kenapa, Bu?" Aku menelan ludah. "Kenapa harus begini terus?"

Ibu menunduk, kakinya bergetar. Aku kehilangan kendali.

"Aku kerja dari pagi sampai sore." Kukecapkan setiap kata seolah harus kudorong keluar. "Aku pulang masih harus masak. Masih harus beresin rumah. Masih harus ngurus kebun. Aku capek, Bu!"

 

Kalimat-kalimat yang kulontarkan bergaung lebih keras. Tanganku mengepal tanpa kusadari.

"Aku juga pengen pulang..." Kalimatku berhenti di tenggorokan. Mataku mulai panas. "...aku juga pengen pulang ke rumah tanpa harus memikirkan mana dulu yang harus kubereskan."

Wajah Ibu berubah. Roti yang tadi digenggamnya jatuh ke lantai. Ia tak mengambilnya. Hanya memandangku sayu.

Aku tahu bahwa seharusnya aku bisa lebih sabar. Namun, sudah tak terhitung berapa hari aku berharap ia kembali menjadi dirinya sendiri.

Ia tidak gila. Ia hanya terlalu banyak diam.

Air matanya mengalir. Ia berbalik, lalu masuk ke dalam kamar. Kupikir ia akan membentakku, memakiku hingga membangunkan kesunyian. Padahal, aku sangat siap mendengarnya.

Salahku? Mengapa harus aku?

Lihat selengkapnya