Aku pulang. Aku mendorong pintu, kekacauan ruang tengah langsung menyambut.
Tas kain masih menggantung di pundak saat pandanganku menyapu sekeliling. Kursi-kursi telungkup, berpindah tempat. Ember berisi air terguling di ruang tengah, meninggalkan noda kaki yang membentang dari arah kamar mandi sampai ke kamar Ibu.
Aku tak berhenti. Tak ada lagi tenaga untuk merutuki pemandangan yang sama. Kursi yang melintang di jalan, kugeser ke pinggir agar bisa lewat menuju dapur.
Denting kaca saling bersentuhan. Aku mempercepat langkah.
Ibu berjongkok di dekat meja makan. Tutup panci, beberapa gelas, dan saringan berserakan di sekelilingnya. Jemarinya yang gemetar memunguti benda-benda itu satu demi satu. Tutup panci dikembalikan ke atas meja. Gelas diletakkan di rak dekat piring.
Namun, gerakannya terhenti. Ia memegang saringan cukup lama.
Benda itu dicoba digantungkan pada sebuah paku di dinding, tetapi ia mengambilnya lagi. Tangannya berpindah ke paku yang lain, menggesernya sedikit, hingga akhirnya dibiarkan.
Aku tetap berdiri di ambang dapur. Berminggu-minggu aku pulang ke rumah yang selalu porak-poranda, tanpa pernah melihat Ibu menggerakkan tangan untuk merapikannya. Kali ini, ia mulai melakukannya.
Ia menyadari kehadiranku. Kedua telapak tangannya diusap ke baju. Sehari tak bertemu. Matanya lebih cekung, bibirnya terkelupas.
Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Mungkin tidak sekarang.
Aku memilih berjalan ke halaman belakang, memeriksa tanaman-tanamanku yang sudah tumbuh besar. Daun-daun hijau itu tampak segar. Tanah di sekitar akarnya menggelap, memperlihatkan jejak kaki yang sama dengan yang ada di ruang tengah.
Saat aku kembali ke dapur, Ibu sudah memegang kain basah. Ia menggosok lantai yang kotor. Aku mengambil sapu dan membersihkan sudut yang lain.
Rumah mulai terasa seperti rumah. Ada seseorang yang bergerak bersamaku, bukan sekadar menunggu tanganku yang merawat.
***
Beberapa hari berlalu. Perubahan kecil itu bertahan.
Ibu memang belum banyak bicara. Tatapannya masih sering kosong, tetapi ia tak lagi menghabiskan hari di atas ranjang. Kadang ia menyapu halaman, mengangkat jemuran baju, atau menyiram kebun.
Aku bisa bekerja tanpa terus-menerus membayangkan keadaannya di rumah. Tanganku kembali sibuk mengikuti ritme pekerjaan. Keranjang-keranjang roti berpindah dari dekat penggorengan ke meja pendinginan. Bungkus plastik terus berganti di ujung jemariku. Suara loyang beradu, percakapan para pekerja, dan deru mesin menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-hariku.
Menjelang siang, kepalaku terasa berat. Mataku sempat kabur karena mungkin terlalu banyak terkena uap panas. Aku mengedip beberapa kali, berusaha memusatkan pandangan.
"Woy! Bawa, nih! Cepet! Mau nunggu sampai numpuk? Keburu gosong!"
Suara pria yang selalu berteriak di ruang produksi itu menggema. Aku menghela napas, dan bergegas sebelum ia melolong lagi.
Kuangkat keranjang yang sudah penuh roti. Otot-otot tanganku terasa keram. Aku berhenti sejenak. Namun, hidungku justru menangkap aroma yang tidak seharusnya di sini. Bau lembap, seperti lumpur yang terangin-angin.
Bau itu menyeruak di antara wangi mentega dan adonan yang baru matang. Tipis, tetapi cukup menusuk di hidungku.
Pandanganku jatuh ke bawah. Mungkin ada pekerja yang baru datang dari luar. Namun, yang kulihat hanya serpihan tepung, remah-remah roti, dan jejak sepatu yang memudar di lantai semen.
Aku mengembuskan napas, sedikit menengadah ke atas. Mungkin hanya perasaanku. Keranjang itu kembali kuangkat.
Aroma yang sama kembali menyergap. Kali ini lebih pekat. Wangi roti yang memenuhi ruangan seolah tersingkir sedikit demi sedikit.