Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #29

Bab 29: Hasil Kebun

Sore ini, aku duduk di teras. Tak ada lagi tempat yang harus kudatangi setelah matahari terbit, dan tak ada rutinitas pulang. Pandanganku mengembara hingga berhenti di deretan makam. Sudah cukup lama aku tak memperhatikan hamparan tanah pembaringan itu.

Hari-hariku sebelumnya habis di pabrik. Berangkat pagi, pulang menjelang petang. Makam-makam itu hanya menjadi latar yang kulewati setiap hari. Kini, semuanya kembali memenuhi mataku.

Aku sempat membayangkan hidupku akan berubah. Jika terus bekerja, aku bisa menyisihkan uang dari sisa belanja. Mungkin tak banyak, tetapi cukup untuk ditabung. Aku ingin keluar dari rumah ini. Menata hidup yang lebih baik, atau bahkan mulai mengukir mimpi-mimpiku lagi.

Sayangnya, angan itu kandas terlalu cepat. Padahal, aku tidak mengada-ada. Aku melihat sosok itu berdiri di ruang produksi. Aku yakin. Namun, tak seorang pun memercayaiku. Bahkan Teh Umah tak mengatakan apa-apa ketika Pak Hadi memberhentikanku dari pekerjaan.

Aku bangkit. Aku mencoba untuk tetap hidup. Tanganku meraih sapu lidi yang tersandar di samping pintu. Daun-daun kering menumpuk di sudut pagar bambu, dibawa angin yang senantiasa berembus kencang. Kusapu perlahan. Dari halaman, langkahku bergeser ke pemakaman. Rumput liar mulai meninggi di beberapa makam. Kubersihkan satu per satu sambil sesekali menengadah ke langit.

Makam-makam tetap sepi. Tak banyak yang datang untuk menengok kondisinya. Aku berhenti di depan beberapa makam yang terasa begitu akrab. Ada orang yang menitipkannya kepada Ayah. Ada pula yang memberiku uang karena aku membersihkan rumput-rumput liar di sisi-sisinya.

Mungkin jika semua ini kuurus secara rutin, aku masih punya harapan untuk membeli sekantung beras. Seseorang akan datang, lalu mengucapkan terima kasih sambil menyelipkan sesuatu kepadaku.

Aku hanya perlu menunggu. Mungkin esok atau lusa.

***

Semburat mentari pagi menimpa daun-daun. Warnanya berkilau menyimpan sisa embun. Akan tetapi, kepalaku sudah disusupi lagi pertanyaan yang sejak kemarin tak berhasil kujawab. Dari mana aku harus mendapatkan uang?

Beras habis. Tempe yang kubeli dua hari lalu tinggal setengah.

Berdiri di ambang pintu belakang, aku merengkuh keranjang anyaman bambu. Tatapanku menyusuri kebun, lahan sempit yang terselip di antara tanah orang-orang mati.

Dulu, saat aku bertanya mengapa Ayah membuat kebun di tempat seperti ini, ia hanya tersenyum tipis. "Kebun ini buat makan kita," katanya waktu itu.

Aku menghela napas, lalu melangkah mendekati tanaman-tanaman itu. Selama ini aku hanya menyiramnya setiap pagi dan sore, sekadar memastikan peninggalan Ayah ini tidak mati. Aku tak pernah benar-benar memperhatikan mana sayuran yang sudah siap dipetik, karena upahku di pabrik roti masih cukup untuk membeli beras.

Jemariku ragu-ragu ketika meraih tomat pertama yang memerah. Tanganku lalu bergeser ke sulur kacang panjang yang melilit lanjaran bambu. Kukira tanaman ini butuh waktu lama untuk berbuah. Nyatanya, banyak polongnya yang sudah menguning dan kering, tersamar di antara lebatnya daun. Begitu pula dengan jagung, entah seharusnya dipanen hari ini atau nanti. Tak ada tempat untuk bertanya.

Akhirnya, kupetik mana saja yang menurutku sudah layak untuk memenuhi keranjang. Aku akan mencoba menjualnya dengan berkeliling kampung, meski keberanianku belum cukup besar.

Aku mengambil buku lamaku yang tak terpakai. Kusobek halaman-halamannya untuk dijadikan pembungkus cabai serta tomat.

Lihat selengkapnya