Aku sudah sangat terbiasa dengan keanehan Ibu. Aroma, rasa, pendengaran, hingga sikap. Namun, bukan berarti aku kebal dengan semuanya. Malam kemarin, aku akhirnya memutuskan menyeretnya ke dalam rumah. Kukunci semua pintu dengan rapat. Aku bahkan tidur di ruang tengah.
Ia tak pernah menjelaskan. Hanya memberi teka-teki yang kadang kulupakan, kadang kusimpan di bawah bantal. Aku tak pernah bertanya. Tidak mau.
Malam demi malam tak memberiku tidur yang utuh. Beberapa kali aku terbangun dan mendapati kamar Ibu kosong. Mulanya, aku panik, berlari mencarinya ke seluruh sudut rumah. Lama-kelamaan, aku selalu terjaga di jam-jam ia tidak ada.
Jika tidak di kebun, ia duduk bersimpuh di depan sebuah makam. Mengusap nisan yang berdiri seolah ia mengenali nama yang tertulis di permukaannya. Ia juga mengajaknya berbicara. Ketika kudekati, yang terdengar hanya isak yang dipatah-patahkan.
Pagi ini, Ibu duduk di teras dengan sebuah buku lusuh di pangkuannya. Pulpen di tangannya bergerak, mengisi lembar demi lembar dengan cepat. Saat aku melangkah mendekat, ia segera menutup bukunya, lalu bangkit dan masuk ke kamar.
Sementara itu, kebun telah berubah. Bentuknya tak lagi rapi. Tomat-tomat hijau berserakan di tanah. Cabai yang belum sempat memerah tercabut bersama akarnya. Beberapa batang kacang panjang terkulai, mengering. Jagung-jagung muda terlepas dari batangnya, dimakan burung-burung. Hanya tersisa petak kecil yang masih bisa diambil hasilnya.
Aku tak ingin berkeliling menawarkan sayuran lagi. Tatapan orang-orang kampung masih teringat jelas di benakku. Namun, aku juga tak bisa terus menunggu. Aku rindu makan nasi. Aku rindu lauk yang lebih dari sekadar hasil kebun. Sepotong tahu goreng pun terasa seperti kemewahan, apalagi bisa menyantap daging ayam.
Kukumpulkan semua sayuran yang masih layak dijual ke dalam keranjang. Jika orang-orang di kampung ini tak mau membeli hasil kebunku, mungkin aku bisa menjajakkannya ke kampung sebelah. Jika tak kunjung menemukan pembeli, aku akan berjalan lebih jauh lagi. Pokoknya, hari ini aku harus membawa pulang uang, berapa pun jumlahnya.
Sebelum berangkat, aku mengintip ke kamar. Ibu sedang duduk di lantai, memeluk kedua lututnya. Buku itu tergeletak di sampingnya. Aku meletakkan sepiring jagung rebus dan semangkuk tumis kacang panjang di meja kecil samping tempat tidurnya.
"Hanya ini. Dimakan, ya, Bu," ucapku seraya mengamati wajahnya. “Nur mau keliling dulu.”
Ibu hanya menggeleng. Aku tidak mengerti maksudnya. Biarlah. Aku harus segera pergi sebelum sayuranku layu.
Aku mengapit keranjang di pinggang, tanganku bersiap membuka pintu depan. Akan tetapi, pikiranku tak henti mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan buruk.
Bagaimana jika Ibu mengacak-acak kebun lagi hingga semuanya habis? Bagaimana jika ia berjalan lebih jauh, keluar dari area pemakaman ini?
Aku menarik gagang pintu kamar Ibu dengan halus. Dingin. Tubuhku sedikit gemetar.
Tidak ada pilihan. Aku terpaksa menguncinya dari luar karena pintu lain hanya bisa dikunci dari dalam.
Cukup lama aku bergeming di depan kamarnya, memastikan tidak ada teriakan. Dalam hati, aku terus mengulang satu kalimat yang sama: aku akan pulang secepatnya. Saat tak ada suara apa pun yang menyusul dari dalam, aku bergegas pergi.
Aku berjalan mengikuti aspal yang mulus. Di kampung sebelah, tak seorang pun mengenalku. Keranjang di lenganku memang tak menjadi lebih ringan, tetapi langkahku tak lagi dipenuhi keraguan seperti waktu pertama kali berkeliling.
Aku berhenti di depan rumah-rumah yang pintunya terbuka, menawarkan sayuran dengan suara yang lebih berani. Beberapa orang hanya menggeleng. Beberapa lagi membeli tomat atau cabai sekadarnya. Ada yang menawar hingga nyaris separuh harga. Seorang ibu bahkan meminta tambahan segenggam cabai setelah harga disepakati.