Akar di Kepala Ibu

Jasma Ryadi
Chapter #31

Bab 31: Habis

Ibu terbaring karena kelelahan. Aku mengangkatnya, memindahkannya ke kasur. Ia tertidur lelap sejak sore hingga pagi kembali menyapa.

Usai memetik sayuran yang selamat dari kehancuran kemarin, aku membersihkan tubuhku. Kugosok kulitku dengan sikat mandi, memastikan tak ada sisa tanah atau kotoran yang tertinggal. Air cucian sabun mengalir melalui pipa besar, menyatu dengan saluran pembuangan di pinggir jalan kampung.

Rumah ini tampak dibangun dengan kokoh. Namun, aku tak pernah tahu siapa penghuni sebelumnya, dan mengapa Ayah memilih memboyong kami ke tengah area pemakaman ini. Setiap kali aku bersiap bertanya, mulutku selalu lebih dulu dibungkam dengan kata-kata tentang rasa syukur yang kerap digaungkan olehnya. Tak ada ruang untuk mempertanyakan. Dalam rumah kami, patuh selalu dianggap jauh lebih penting daripada memahami.

Aku beranjak dari kamar mandi. Suara ketukan di pintu depan mempercepat langkahku. Kulihat Ibu masih ada di kamarnya, duduk di tepi ranjang menghadap jendela. Tas kain besar yang kemarin diseretnya tergeletak di samping kakinya.

Lalu, siapa yang mengetuk?

Aku membuka pintu depan. Sunyi. Tak ada siapa-siapa. Rumah ini memang terlalu sering menyimpan gema dan suara yang tak bersumber.

Biarlah. Siapa pun. Apa pun. Tak ada waktu untuk menduganya.

Aku berdiri di depan cermin kecil yang menempel di pintu lemari. Kusisir rambutku hingga tak ada lagi yang menjuntai liar, lalu mengikatnya sederhana di belakang kepala. Usapan bedak tipis merata di wajah, menemani pakaian terbaikku yang melekat di badan. Biasanya aku tak pernah peduli pada penampilan. Namun, seruan anak-anak sekolah kemarin membuatku merasa perlu membuktikan sesuatu, bahwa aku bukan orang gila.

Setelah menyiapkan makan dan memastikan segelas air berada dalam jangkauan Ibu, kukunci pintu belakang dengan tambahan palang kayu. Kubiarkan kamarnya terbuka. Aku ingin mencoba memercayainya, meski ketakutan dalam dadaku belum sepenuhnya surut.

Kuintip Ibu sekali lagi. Piring di samping ranjang sudah berpindah ke pangkuannya. Rahangnya bergerak pelan, mengunyah dengan tenang. Kurasa ia akan baik-baik saja.

Aku pergi. Aku sudah tahu harus ke mana.

Semoga hari ini seperti kemarin. Kupercepat langkah. Senyum terkembang menatap jalanan yang tak lagi terasa sejauh kemarin, padahal tujuannya sama. Jika daganganku laku semua, aku berniat membeli sandal baru. Kurasa uangnya akan cukup.

Sayangnya, ketika kutawari, orang-orang malah menggeleng. Sayuranku dianggap belum layak dijual. Katanya, tomat dan cabainya masih terlalu muda, kacang panjangnya kerdil, sementara jagungnya belum berisi. Pada akhirnya, aku melepas semuanya dengan harga berapa pun yang mereka tawarkan. Aku hanya ingin isi keranjangku bertukar dengan beras. Angan yang lain masih bisa ditunda.

Besok atau lusa, mungkin aku akan merapikan lahan untuk menanam lagi. Aku masih ingat urutan yang dulu Ayah lakukan sebelum menebar benih.

Sepanjang perjalanan pulang, tubuhku serasa bergerak tanpa jiwa. Bahuku ngilu menahan beban keranjang yang kosong, telapak kakiku terasa terbakar di atas aspal, dan pandanganku sedikit kabur disengat terik matahari.

Setiba di depan pagar rumah, aku mengembuskan napas lega. Pintu depan masih terkunci rapat seperti saat kutinggalkan pagi tadi. Halaman pun tampak tenang.

Lihat selengkapnya