Malam memberat dengan udara yang terasa lembap. Dalam hati, aku ingin sekali berbalik, mengunci pintu, dan membiarkan dunia ini hancur sekalian. Namun, melihat bayangan Ibu yang meraba-raba gundukan tanah dalam gelap, tubuhku bergerak di luar kendali.
Aku bahkan tak ingat bagaimana caranya menarik Ibu kembali ke rumah. Saat tubuhku menyentuh kasur, kesadaranku langsung padam.
Sampai sebuah gedoran keras di teras mendobrak lelapku.
Mataku terbuka lebar dalam gelap. Hantaman itu berulang, bertubi-tubi memukul kayu pintu depan. Di sela gedoran yang kian rapat, teras rumah terdengar riuh oleh gesekan langkah kaki, desis orang berbincang pelan, hingga tawa pendek yang mendadak lenyap ditelan kegaduhan lain. Aku duduk perlahan di tepi kasur, menahan napas.
Suara lain muncul, menambah kegaduhan malam. Suara benda berat bergesekan dengan lantai yang terdengar dari kamar Ibu.
Aku menunggu semuanya berhenti. Tidak. Justru semakin gaduh. Aku turun dari kasur dan membuka pintu kamar.
Ibu keluar sambil menyeret tas kain besarnya. Beberapa helai rambut menempel di pipinya yang basah. Langkahnya tertatih, tetapi tampak terburu-buru.
Ia tak memandangku. Tatapannya lurus ke pintu depan.
"Mereka sudah datang," gumamnya.
Aku mengikuti arah pandangannya. Pintu masih tertutup. Jendela pun masih terkunci dari dalam. Namun, dari celah di bawah pintu, bayangan berhimpitan. Aku mundur beberapa langkah.
Ibu menggenggam tali tasnya erat-erat. "Keluarga saya sudah menjemput."
Aku menarik lengannya. "Bu..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, ia menoleh cepat ke sekeliling rumah. Matanya bergerak liar. Kepanikan di wajahnya semakin jelas, seperti seseorang yang baru menyadari ada sesuatu yang penting yang tertinggal.
"Nur!”
Ia melepaskan diri dari genggamanku. Ia masuk ke dalam kamar-kamar, mengitari dapur, memeriksa setiap sudut. Setelah itu, ia kembali ke ruang tengah. Tas besar terus terseret mengikuti langkahnya, meninggalkan bunyi berisik di atas ubin.
“Di mana anakku? Cari dia! Tolong!” Ibu menggoyang-goyangkan tubuhku.
Aku lelah. Lebih dari sekadar pasrah dan ingin menyerah.
Mulutku terbuka lebar. “Bu, aku di sini.”
Ibu sama sekali tak memedulikannya. Ia justru berjalan semakin cepat, membuka tirai dapur, mengintip ke belakang pintu, bahkan menunduk bak berharap menemukan seseorang yang bersembunyi.
“Cepat, Nur! Nanti ayahmu keburu pulang,” ucapnya dengan suara yang mulai bergetar. "Mereka sudah nunggu. Jangan bikin mereka nunggu kelamaan."