Setelah malam itu, Ibu hampir tak pernah lagi keluar kamar. Ia lebih banyak berbaring menghadap dinding. Kadang matanya terpejam sepanjang hari, kadang terbuka menatap langit-langit yang menghitam. Sesekali, kulihat air matanya mengalir hingga ke pipi, lalu mengering sendiri. Tak ada isak ataupun suara.
Aku ingin meminta maaf kepadanya. Kata-kata tersebut sudah tersusun di kepala setiap kali aku masuk ke kamarnya. Namun, ketika melihat punggungnya yang diam, semuanya lenyap begitu saja. Aku bahkan tidak tahu apakah Ibu sudah mengenaliku, atau justru hanya aku yang terus mengingatnya.
Hari-hari terus berjalan, meski terasa melambat. Tak ada lagi keranjang sayur yang kupanggul berkeliling kampung. Kebun yang dulu kutatap dengan penuh harapan, kini menyisakan batang-batang yang melapuk di tanah. Hanya pohon singkong yang masih bertahan.
Tunas-tunas daun muda tumbuh dari batang yang pernah ditebas Ibu. Aku tak tahu apa yang ada di bawahnya. Aku menghampirinya, lalu mencabut salah satunya.
Tanah yang lembap ikut terangkat. Aku bergidik sesaat, tanganku berhenti bergerak. Dari gumpalan tanah yang menempel di umbi, akar-akar halus menjuntai ke bawah. Warnanya pucat kecokelatan, tipis, saling melilit.
Bentuknya mengingatkanku pada rambut. Rambut yang tercerabut bersama kulit kepala. Aku segera menepis tanah yang masih menempel, tetapi bayangan itu tak ikut hilang.
Dulu, ketika Ayah mulai menggarap kebun ini, aku pernah berkata tak akan memakan hasilnya. Bagiku, sayuran dan umbi yang tumbuh di sini telah berakar di atas pembaringan orang mati. Semuanya tumbuh dengan menyerap sari pati jasad manusia.
Ayah hanya tersenyum sambil terus mengayunkan cangkul. Katanya, tanah akan membalas siapa pun yang mau merawatnya.
Saat itu, aku menganggap Ayah hanya sedang membujukku. Sekarang, hidupku bergantung pada isi kebun yang tersisa.
Aku memipil jagung-jagung kering, merebusnya hingga pecah menjadi bubur. Singkong-singkong kecil itu kukukus dengan sedikit garam.
Setelah matang, aku tetap memakannya, meski tercium aroma yang membuatku kehilangan selera. Bau daging yang telah lama membusuk.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya perasaanku. Kusuapkan sesendok lagi ke dalam mulut. Lagi dan lagi.
Ibu pun memakannya dengan lahap, tanpa menunjukkan keluhan.
Namun, hari-hari setelahnya selalu berubah-ubah. Ada hari ketika ia duduk bersandar di kepala ranjang dan mengangguk pelan saat kusodorkan segelas air. Ada hari ketika ia meminta makan dengan suara yang begitu lirih hingga aku harus mendekat untuk mendengarnya.
Terkadang, ia memanggil nama orang-orang yang tak pernah kukenal, bertanya tentang bus menuju rumah orang tuanya. Di lain pagi, ia hanya diam menatap dinding seharian.
Aku tak tahu harus percaya pada hari yang mana. Adakalanya aku merasa sedang merawat seseorang yang mungkin akan kembali kepadaku, tetapi belakangan aku harus memperkenalkan diriku lagi kepadanya.
Siang ini, aku merapikan pakaian yang menumpuk di ruang tengah. Aku menata ulang isi lemari Ibu yang berantakan. Helai demi helai berpindah, bertumpuk di pangkuanku. Gerakanku terkunci saat jemari menyentuh rajutan kasap kemeja usang milik Ayah. Bau kapur barus menguar dari lipatan kain, berbaur dengan aroma apek. Aku menyisir kerahnya yang kaku, menekan permukaannya, dan menyembunyikan sebelah lengan ke dalam lipatan.
"Perempuan itu tugasnya di rumah. Untuk apa kerja."
Ucapan Ayah bergema di telinga. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi selalu berhasil memenjaraku, menidurkan mimpi-mimpiku.