Aku menemukan buku Ibu ketika sedang membereskan lemari pakaiannya. Buku yang pernah kulihat ada di pangkuannya. Sampulnya lusuh, sudut-sudutnya mengelupas.
Aku mengira itu buku harian. Namun, sejak halaman pertama, tak kutemukan satu pun tulisan yang menceritakan kehidupan Ibu. Tak ada tanggal, nama, ataupun kata. Hanya coretan pena hitam yang memenuhi setiap halaman.
Garisnya tipis, tetapi makin kubalik lembarannya, garis-garis tersebut makin banyak. Menjalar, bercabang, saling melilit, dan menyatu membentuk sesuatu yang menyerupai akar pohon. Di halaman lain, bentuknya berubah. Sekilas seperti tulang, lalu gigi, hingga jari-jari kecil yang saling menggenggam.
Anehnya, ketika kupandangi lebih lama, semuanya menjadi akar. Selalu akar.
Hingga di halaman terakhir, barulah ada sebuah kalimat tersusun. Tercetak miring dengan huruf sambung yang rapi: “Akar selalu tumbuh ke tempat yang sama.”
Aku menutup buku itu. Telapak tanganku terasa sangat dingin.
Suara kucuran air terdengar dari kamar mandi. Sesaat kemudian, bunyi hentakan tuas pompa menyusul. Gerakannya pelan, berjeda, dengan irama yang sama.
Bunyi itu terasa tidak asing di telingaku. Aku beranjak ke dapur. Derit pompa terus mengiringi langkahku hingga putaran terakhirnya menghilang.
Aku lantas mengambil pisau, mengupas singkong-singkong yang ukurannya tak lebih besar dari lenganku. Kususun kayu-kayu di dalam tungku, meski sebagian masih lembap.
"Masak apa, Nur?"
Tanganku berhenti. Mataku mencari asal suara.
Ibu berdiri di sampingku sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lusuh. Pakaiannya telah berganti. Wajahnya tampak jauh lebih segar dari yang biasa kulihat.
"Singkong, Bu," jawabku.
Ibu mengangguk kecil. Ia menggulung handuk di atas kepalanya. Kemudian, ia berjongkok di depan tungku, merapikan susunan kayu yang kubuat.
"Jangan kebanyakan dulu, Nur. Nanti apinya tidak bisa napas," ucapnya. "Kalau sudah jadi, baru ditambah."
Jemariku menggantung di udara. Kubiarkan Ibu menyelipkan kayu-kayu itu sendiri. Ia merunduk, meniup-niup ranting kering. Tak lama kemudian, asap tipis mengepul, disusul nyala api kecil yang perlahan membesar.
Kupindahkan panci berisi potongan singkong ke atas tungku. Saat tanganku meraih garam, Ibu menyentuh pergelangan tanganku.
"Jangan dulu. Tunggu pas sudah mau matang biar nggak keasinan," katanya dengan suara lembut.