Akar di Sela Karang,

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Si Anak Karang Pemicu

Angin laut sore itu berembus kencang, membawa serta bau asin yang pekat dan hantaman buih putih yang berdebur ganas menghantam dinding-dinding karang tajam di Tanjung Ratu. Di atas salah satu batu karang yang menonjol paling tinggi, seorang gadis remaja duduk berselonjor dengan kaki telanjang yang penuh luka gores tipis dan sisa-sisa garam mengering. Namanya Kinan, tetapi orang-orang kampung pesisir lebih sering memanggilnya si anak karang.

Kinan menatap lurus ke cakrawala, tempat matahari mulai terbenam dengan gradasi warna jingga kemerahan yang memukau sekaligus menakutkan. Di tangannya, sebilah pisau kecil dan sekeranjang kecil kerang batu menjadi saksi bisu dari jam-jam panjang yang ia habiskan di bawah terik matahari demi mengumpulkan sisa-sisa rezeki laut. Kulitnya gelap terbakar matahari, kontras dengan matanya yang jernih dan tajam bagai fajar di ujung timur.

"Kinan! Jangan terlalu malam pulangnya, air pasang mulai naik!" teriak suara serak dari kejauhan, milik Mak Inah, tetangga sebelah rumah panggungnya yang sedang membereskan jaring.

Kinan hanya melambaikan tangan sekilas tanpa membuang pandangannya dari laut. "Sebentar lagi, Mak!" balasnya setengah berteriak menyaingi suara ombak.

Bagi Kinan, karang bukan sekadar tempat mencari makan; karang adalah rumah, penjara, sekaligus tempat perlindungan. Setiap jengkal batu karang di pantai ini menyimpan cerita tentang luka dan keringat. Ia meraba jemarinya sendiri yang kasar dan menebal di bagian ujung-ujungnya—tanda sahih dari hari-hari panjang memahat batu demi mencari tiram dan kerang mutiara liar. Tidak ada kelembutan di tempat ini. Yang ada hanyalah perjuangan konstan melawan hantaman gelombang, angin musim yang mematikan, dan himpitan kemiskinan yang mengakar kuat seperti rumput laut di dasar karang.

Sambil terus mencongkel cangkang kerang yang melekat erat di sela-sela batu, pikiran Kinan melayang jauh meninggalkan desau angin pantai. Ia memikirkan mereka, para perempuan "beruntung" yang tinggal di kota besar nun jauh di balik bukit barisan sana—gadis-gadis seusianya yang mengenakan pakaian bersih tanpa noda lumpur, yang berjalan di atas lantai mal yang mengkilap, dan yang menghabiskan sore hari di kafe-kafe mewah tanpa pernah tahu bagaimana rasanya mencium bau amis darah ikan sejak subuh.

"Mereka hidup di dalam taman bunga," bisik Kinan pada dirinya sendiri, suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak. "Sementara aku, hidup di celah karang yang runcing."

Metafora itu sering berputar di kepala Kinan setiap kali ia melihat majalah usang atau ponsel murah milik sepupunya yang memperlihatkan potret kehidupan remaja kota. Gadis-gadis kota di dalam bayangannya seperti bunga-bunga mawar dan tulip yang tumbuh di rumah kaca yang hangat. Mereka disiram air jernih, dilindungi dari terik matahari yang menyengat, dan dipelihara dengan penuh kasih sayang tanpa harus takut duri menusuk telapak kaki mereka.

"Bagaimana rasanya ya, memiliki tangan yang halus?" gumam Kinan pelan, lalu ia menatap telapak tangannya sendiri yang dipenuhi bekas luka goresan karang dan kapalan tebal. Ia mengepalkan tangannya erat-erat, merasakan denyut nyeri di persendiannya akibat terlalu lama terendam air asin yang dingin.

"Kinan, kau melamun lagi?" suara bariton berat mendadak memecah lamunannya.

Kinan menoleh dan mendapati ayahnya, Pak Dirta, berdiri di dekat cerukan batu dengan membawa sebatang kayu penusuk gurita. Wajah ayahnya dipenuhi kerut merut usia dan garis-garis kelelahan yang dalam.

"Tidak, Yah. Aku hanya sedang melihat ombak," jawab Kinan, berusaha menyembunyikan nada getir dalam suaranya.

Ayahnya mendengkah pelan, lalu duduk di sampingnya, ikut memandangi laut lepas. "Laut tidak pernah berbohong, Kinan. Ia keras pada mereka yang lemah, tapi bermurah hati pada mereka yang gigih. Jangan pernah iri pada orang-orang di kota. Mereka punya dunia mereka sendiri, dan kita punya karang kita sendiri."

"Tapi apakah kita harus terus hidup di atas batu karang ini selamanya, Yah?" tanya Kinan, menatap lekat-lekat mata ayahnya dengan sejuta tanya yang mendesak didadanya.

Pak Dirta terdiam sejenak. Angin malam mulai berembus lebih dingin, menerbangkan helaan napasnya yang berat. "Hidup bukan tentang di mana kita berpijak, Nak, tapi tentang seberapa kuat kita bertahan saat badai datang."

Dialog singkat itu terhenti oleh hantaman ombak yang lebih besar dari biasanya, memercikkan buih air laut hingga membasahi wajah mereka berdua. Kinan menunduk kembali pada keranjangnya. Hari ini ia memang lelah, tetapi di lubuk hatinya yang paling dalam, benih-benih pemberontakan kecil mulai tumbuh. Ia tidak ingin selamanya menjadi anak karang yang terlupakan.

❖ ❖ ❖

Malam merayap lambat di perkampungan nelayan Tanjung Ratu. Lampu-lampu pelita minyak tanah berpendar redup di setiap kolong rumah panggung, memantulkan bayangan gemetar di dinding kayu yang lapuk. Di dalam rumahnya, Kinan duduk bersila di dekat jendela kayu yang rapuh, menerangi lembar-lembar buku catatan sekolahnya yang sudah menguning dengan sebatang lilin kecil.

Pendidikan bagi anak-anak pesisir sepertinya adalah kemewahan nomor kesekian. Di saat teman-teman sebayanya di kota sibuk memilih bimbingan belajar terbaik, Kinan harus membagi waktunya antara membantu ayahnya memperbaiki jaring dan membaca buku-buku pinjaman dari perpustakaan sekolah yang hampir rubuh.

"Belum tidur, Nak?" suara lembut ibunya, Mak Nur, terdengar dari ambang pintu dapur sambil membawa segelas air hangat.

"Belum, Mak. Masih ada tugas sejarah," jawab Kinan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tulis.

Mak Nur melangkah mendekat, meletakkan gelas tersebut di atas meja kayu yang reyot, lalu mengelus rambut Kinan dengan penuh kelembutan. Telapak tangan ibunya sama kasarnya dengan milik ayahnya, penuh dengan bekas goresan kulit kerang dan air garam. Sentuhan itu selalu memberi Kinan rasa aman sekaligus rasa bersalah yang teramat sangat.

"Ibu tahu kau anak yang pintar, Kinan. Tapi jangan terlalu memforsir dirimu. Hidup kita sudah cukup berat tanpa harus kau bebani dengan mimpi-mimpi yang terlalu tinggi," kata Mak Nur dengan nada prihatin.

Kinan mendongak, menatap mata ibunya yang mulai redup dimakan usia dan kepayahan hidup. "Apakah bermimpi itu salah, Mak? Apakah karena kita tinggal di pinggir pantai yang karangnya tajam, kita tidak berhak untuk bermimpi melihat dunia di luar sana?"

"Bukannya salah, Kinan..." Mak Nur menghela napas panjang, duduk di kursi bambu di sebelah anaknya. "Ibu hanya takut kau terluka. Dunia di luar sana tidak seramah ombak di pantai kita. Di sana, orang-orang saling memakan tanpa suara. Di kota besar, kemiskinan tidak kelihatan seperti di sini—di sini kita tahu siapa yang lapar, tapi di kota, kelaparan disembunyikan di balik senyuman palsu."

Kinan terdiam. Kata-kata ibunya menghujam langsung ke dalam ulu hatinya. Namun, rasa penasaran itu justru semakin membara. Di sekolah, gurunya pernah bercerita tentang dunia yang luas di seberang pulau, tentang universitas-universitas besar dengan gedung tinggi berdinding kaca, dan tentang kesempatan bagi siapa saja yang mau merubah nasibnya melalui ilmu pengetahuan.

Keesokan paginya, matahari belum sepenuhnya menampakkan diri ketika Kinan sudah berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju dermaga kecil tempat perahu-perahu nelayan bersandar. Hari ini adalah hari pengumuman hasil seleksi beasiswa tingkat kabupaten untuk melanjutkan sekolah ke ibu kota provinsi. Hanya ada satu kuota untuk seluruh wilayah pesisir selatan.

Jantung Kinan berdegup kencang bukan kepalang. Langkah kakinya terasa berat, seolah sepatu ketsnya yang sudah jebol di bagian samping ditarik oleh ribuan tangan tak kasat mata dari dasar karang. Sesampainya di halaman kantor kelurahan, beberapa anak seusianya sudah berkumpul dengan pakaian rapi. Mereka adalah anak-anak kepala desa, anak juragan ikan terkaya di dusun sebelah, dan remaja-remaja lain yang penampilannya jauh lebih bersih daripada Kinan.

"Wah, lihat siapa yang datang. Si anak karang mau ikut tes orang pintar juga rupanya," cibir Badri, anak juragan ikan yang terkenal arogan, sambil tertawa kecil bersama teman-temannya.

Lihat selengkapnya