Akar di Sela Karang,

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Sang Arsitek Taman

Udara di dalam ruang kerja Arka selalu berada pada suhu presisi dua puluh satu derajat Celsius. Tidak lebih, tidak kurang. Bahkan kelembapan ruangannya dijaga ketat pada angka lima puluh persen—kadar ideal yang diyakini menjaga kejernihan pikiran serta mencegah dehidrasi pada selaput lendir manusia. Di luar jendela kaca anti-peluru berlapis tiga yang kedap suara itu, kota berdenyut dalam ritme yang semrawut, namun di dalam sini, semuanya tak lebih dari lukisan bergerak yang bisu.

Arka berdiri di hadapan meja proyeksi hologram tiga dimensi. Jemarinya yang panjang dan terawat melayang di udara, menggeser-geser partikel cahaya biru yang membentuk topografi sebuah tebing pantai.

"Arka, laporan audit untuk kuartal ini sudah masuk ke meja digitalmu," suara Nadia terdengar dari interkom meja. Asisten pribadinya itu selalu berbicara dengan nada datar dan terukur, seolah ia sendiri adalah bagian dari perangkat lunak otomatisasi kantor.

"Simpan di folder prioritas tiga, Nadia. Fokus kita pagi ini bukan pada angka-angka finansial masa lalu, melainkan pada keindahan masa depan," jawab Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari lengkungan garis pantai di hadapannya.

"Baik, Arka. Omong-omong, Direktur Utama mengingatkan kembali tentang konferensi pers siang nanti. Seluruh mata media nasional menantikan pengumuman proyek konservasi pesisir ini. Perusahaan kita diandalkan untuk menyelamatkan garis pantai selatan yang terkikis abrasi parah."

Arka menghela napas pelan. "Aku tahu betul bobot tanggung jawab itu. Garis pantai bukan sekadar batas antara daratan dan lautan. Garis pantai adalah kanvas terakhir alam yang belum sepenuhnya disentuh oleh keteraturan geometris kita. Dan tugasku adalah merapikannya."

"Merapikannya?" tanya Nadia ragu-ragu di ujung sambungan. "Ataukah mengendalikannya, Arka?"

Arka tersenyum tipis. "Dua kata itu memiliki arti yang sama di kamusku, Nadia."

Ia mematikan proyeksi hologram tersebut dengan sebuah tepukan tangan ringan. Ruangan kembali sunyi. Arka melangkah menuju meja kerjanya yang terbuat dari marmer hitam murni tanpa noda. Di atasnya, hanya ada satu benda organik: sehelai daun pakis perak yang diawetkan dalam kubus resin transparan. Daun itu sempurna. Tidak ada ulat yang merusak sisinya, tidak ada warna cokelat akibat kekeringan. Ia abadi dalam keteraturan.

Pintu kaca bergeser otomatis ketika jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Nadia masuk membawa sebuah tablet tipis berisi jadwal harian.

"Mobil penjemput sudah menunggu di basement bawah tanah, Arka. Jas hitam dengan potongan khusus juga telah disiapkan di ruang ganti."

"Terima kasih, Nadia. Apakah data simulasi ekologis dari tim lapangan sudah terintegrasi penuh ke dalam sistem pusat?" tanya Arka sambil merapikan kerah kemejanya yang putih bersih.

"Sudah seratus persen terintegrasi. Algoritma kita memperkirakan pemulihan ekosistem pesisir akan berjalan sesuai rencana dalam kurun waktu lima tahun ke depan, dengan tingkat keberhasilan estetika lanskap mencapai sembilan puluh delapan persen," jelas Nadia sambil melangkah mengikuti Arka menuju lift pribadi.

"Bagus. Alam sering kali gagal karena ia terlalu acak. Tugas kita sebagai arsitek lanskap adalah menertibkan kekacauan itu menjadi sebuah simfoni visual yang menenangkan jiwa manusia," ujar Arka mantap saat pintu lift tertutup rapat, membawa mereka meluncur turun ke lantai dasar.

❖ ❖ ❖

Suasana di aula utama auditorium pusat korporasi begitu riuh. Kilatan lampu kamera dari puluhan wartawan berkelebat tiada henti, menciptakan ritme visual yang tajam di atas panggung megah berlatar belakang logo perusahaan. Arka melangkah tegap ke podium, mengenakan setelan jas rancangan desainer ternama yang melekat sempurna di tubuhnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya—terukur, ramah, namun penuh wibawa.

"Selamat pagi, rekan-rekan media dan para pemangku kepentingan sekalian," suara Arka menggelegar melalui mikrofon nirkabel, jernih tanpa ada cacat suara.

"Pagi ini, kita berdiri di ambang era baru pelestarian lingkungan. Proyek konservasi pantai dan lanskap pesisir selatan bukan sekadar upaya penyelamatan fisik dari abrasi, melainkan sebuah manifestasi tertinggi dari peradaban modern: menata kembali bumi agar selaras dengan visi keindahan umat manusia."

Seorang wartawan dari media independen di barisan depan langsung mengangkat tangan bahkan sebelum Arka sempat melanjutkan kalimat berikutnya.

"Tuan Arka! Izin bertanya," seru wartawan itu dengan nada tajam.

Arka mengangguk sopan. "Silakan."

"Anda menyebut proyek ini sebagai upaya penataan dan pelestarian. Namun, beberapa kelompok masyarakat adat dan nelayan lokal di wilayah pesisir selatan melaporkan bahwa desain lanskap baru perusahaan Anda akan menutup akses tradisional mereka ke laut. Bagaimana tanggapan Anda?"

Suasana di dalam auditorium mendadak mendingin. Beberapa direktur di kursi barisan depan tampak bergeser gelisah. Arka, di sisi lain, tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia terbiasa menghadapi variabel-variabel liar yang mencoba mengganggu rencana besarnya.

"Pertanyaan yang sangat menarik," jawab Arka tenang, menjaga intonasi suaranya tetap rendah dan berwibawa.

"Tradisi sering kali lahir dari keterbatasan masa lalu. Ketika kita berbicara tentang masa depan, kita tidak bisa terus-menerus memelihara metode lama yang terbukti tidak efisien dan merusak lingkungan secara perlahan. Proyek kami membawa keteraturan, keamanan, dan estetika permanen yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan jauh lebih besar bagi masyarakat luas."

"Tapi bagaimana dengan ekosistem liar yang sudah ada di sana, Tuan?" kejar wartawan itu lagi. "Apakah struktur beton artistik yang Anda rancang tidak akan merusak habitat alami kepiting pesisir dan burung migran?"

"Alam liar itu indah dalam teorinya, tetapi berbahaya dalam praktiknya," balas Arka tegas, tatapannya menajam.

Lihat selengkapnya