Akar di Sela Karang,

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Benturan Pertama (Inciting Incident)

Suara deburan ombak di pesisir Kinan terdengar konstan, membawa aroma asin laut yang bercampur dengan bau lumpur bakau. Arka melangkah pelan, menjaga agar sepatu pantofel mahalnya tidak terlalu kotor terkena pasir basah. Di tangannya, sebuah tablet canggih menampilkan peta digital wilayah pesisir yang dipenuhi garis-garis koordinat, zona hijau, dan rencana zonasi tata ruang wilayah yang baru saja disahkan di atas meja birokrasi kota.

Bagi Arka, garis-garis di layar itu adalah simbol ketertiban dan kemajuan masa depan. Namun, ketika ia mengangkat wajahnya, pemandangan di hadapannya jauh dari apa yang tergambar di layar datar tersebut.

Tumpukan jaring ikan berserakan di dekat perahu-perahu kayu yang bersandar. Beberapa warga tampak sibuk memperbaiki jaring sambil bercengkerama dengan suara keras. Di kejauhan, terlihat pondok-pondok panggung sederhana berdiri di atas air, menjorok ke arah laut.

"Permisi, Pak! Tolong jangan lewat situ, jalurnya sedang dipakai untuk menjemur ikan asin," seru seorang perempuan paruh baya dari teras rumah panggung.

Arka menghentikan langkahnya, menatap perempuan itu sejenak sebelum menggelengkan kepala pelan. "Ah, maaf. Tapi menurut peta perencanaan tata ruang daerah nomor empat puluh dua, area ini seharusnya steril dari aktivitas jemur-menjemur permanen. Ini zona konservasi mangrove," kata Arka dengan nada formal, berusaha menjelaskan seolah ia sedang berada di ruang rapat kantor dinas.

Perempuan itu—Kinan—menyipitkan matanya. Ia mengenakan kemeja katun pudar dan celana kain longgar yang ujungnya dilipat ke atas. Tangannya masih memegang gulungan tali nilon. Tanpa ragu, ia melangkah turun dari tangga kayu, mendekati Arka dengan langkah pasti.

"Konservasi? Oh, jadi Anda orang dari kota yang dikirim untuk mengajari kami cara hidup di tanah leluhur kami sendiri?" tanya Kinan, suaranya tajam menembus deru angin laut.

Arka mengerutkan kening, merasa posisinya sebagai perencana tata ruang profesional tidak dihargai. "Saya hanya menjalankan tugas negara, Bu. Berdasarkan data satelit dan kajian akademis, wilayah pesisir ini mengalami abrasi parah akibat alih fungsi lahan yang tidak sesuai aturan."

"Aturan? Kalian membuat aturan dari balik meja ber-AC tanpa pernah menginjakkan kaki di lumpur ini, tanpa tahu bagaimana pasang surut air laut mencuci lantai rumah kami setiap bulan!" balas Kinan, suaranya mulai meninggi.

Arka menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan sabar. "Justru karena kami peduli pada masa depan wilayah ini, penataan harus dilakukan dari sekarang. Kalau tidak, sepuluh tahun lagi tempat ini akan tenggelam sepenuhnya."

"Tempat ini sudah hidup ratusan tahun sebelum kalian lahir dan membuat peta-peta ngawur itu!" Kinan menunjuk layar tablet di tangan Arka. "Dan asal Anda tahu, yang kalian sebut 'alih fungsi lahan' itu adalah satu-satunya cara kami bertahan hidup sejak tambak-tambak besar di hulu merusak sumber air tawar kami!"

Arka terdiam sesaat, namun argumen administratifnya kembali mendesak keluar. "Tapi pembangunan harus terukur. Kalau warga terus membangun pondok di atas jalur hijau, seluruh proyek revitalisasi pesisir ini akan gagal total."

"Biarkan saja gagal!" bentak Kinan. "Gimana kami bisa peduli sama peta tata ruang kalau untuk makan hari ini saja kami harus berjuang setengah mati melawan kebijakan pemerintah yang tidak pernah berpihak pada nelayan kecil?"

Suasana di antara mereka mendadak tegang. Angin laut seolah berhenti berembus, menyisakan napas mereka yang memburu dalam keheningan yang canggung.

❖ ❖ ❖

Arka bergegas kembali ke posko sementara di balai desa, napasnya masih memburu karena emosi yang tertahan. Di dalam ruangan sempit berdinding kayu lapis itu, ia melempar tablet miliknya ke atas meja lipat.

"Ada apa, Arka? Wajahmu kusut begitu. Baru diserang nyamuk pantai?" sapa Rendy, rekan sekantornya, sambil menyerahkan segelas air mineral hangat.

Arka menerima gelas itu, meneguknya sedikit lalu menggeleng. "Bukan nyamuk, Ren. Penduduk di sini benar-benar keras kepala. Diajak bicara soal tata ruang malah ngegas, seolah-olah kita ini musuh negara."

Rendy tertawa kecil, duduk di kursi plastik di seberang Arka. "Yah, wajar saja. Kamu datang membawa dokumen hukum dan teori pembangunan kota ke komunitas yang hidupnya bergantung pada hasil tangkapan harian. Tentu saja bahasa kalian berbeda."

Lihat selengkapnya