Udara sore di Desa Wanasari membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa jerami terbakar, menusuk pelan hidung Kinan yang sejak tadi duduk gelisah di beranda balai desa. Di tangannya, sehelai kertas surat keputusan kecamatan bergetar tipis diterpa angin lembap. Di hadapannya, tiga orang pria berjas rapi berdiri dengan koper-koper jinjing mahal yang tampak sangat kontras dengan lantai semen kasar berdebu.
"Jadi, Anda Kinan Pratiwi? Penghubung lokal yang direkomendasikan pihak kecamatan untuk membantu kelancaran survei kami di sini?" Suara bariton itu memecah kesunyian. Arka Nugroho, ketua tim survei infrastruktur dari ibu kota, menatap Kinan dari balik kacamata berbingkai tipis. Tatapannya dingin, terukur, dan penuh kalkulasi.
Kinan segera berdiri, merapikan kemeja flanelnya yang sudah agak kusut. "Benar, Pak Arka. Selamat datang di Wanasari. Saya sudah membaca ringkasan proyek pembangunan jalur logistik yang bapak pimpin. Tapi perlu saya ingatkan sekali lagi, situasi warga di sini sedang tidak kondusif."
"Kami tahu risikonya," potong Arka cepat, tanpa menyunggingkan senyum sedikit pun. "Justru karena warga menolak keras kedatangan kami selama dua minggu terakhir, pihak kabupaten menunjuk Anda. Anda dibayar untuk memastikan proyek ini diterima, bukan untuk mencari alasan mengapa proyek ini gagal."
Kinan menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. "Bukan mencari alasan, Pak Arka. Warga di sini punya ikatan emosional yang kuat dengan lahan leluhur mereka. Kalau cara pendekatan tim bapak tetap arogan seperti kemarin—datang membawa peta tanpa permisi—jangan harapkan ada pintu yang terbuka."
"Lalu apa saran Anda, Nona Kinan? Kami tidak punya waktu berbulan-bulan untuk melakukan pendekatan kultural yang lambat. Investor menargetkan peletakan batu pertama bulan depan," balas Arka sambil melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya beradu dengan bau debu desa.
"Ikuti aturan main saya," jawab Kinan tegas, menatap mata Arka tanpa gentar. "Jangan pakai jas itu besok. Datanglah pakai baju biasa, dan biarkan saya yang bicara lebih dulu di setiap rumah."
Arka terdiam sejenak, mengamati wanita di depannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ada percikan api perlawanan di mata Kinan, sesuatu yang justru menarik minat profesional Arka. "Baik. Kita lihat seberapa besar pengaruh Anda di desa ini. Mulai besok pagi, pukul tujuh, Anda sudah harus ada di penginapan kami."
❖ ❖ ❖
Matahari baru saja sepenggalah naik ketika Kinan mengetuk pintu kamar losmen tempat Arka dan timnya menginap. Pintu terbuka, memperlihatkan Arka yang sudah mengenakan kemeja polos lengan panjang, meski aura kaku masih melekat kuat di wajahnya. Di belakang Arka, dua anggota timnya tampak sibuk membereskan gulungan peta besar.
"Pagi yang tepat waktu, Kinan," sapa Arka singkat.
"Waktu di desa berjalan lebih cepat daripada di kota, Pak. Kalau kita telat sedikit saja, warga keburu pergi ke ladang, dan kita harus mengulang pendekatan dari nol," kata Kinan sambil menyerahkan sebotol air mineral dingin kepada Arka. "Hari ini kita ke rumah Pak RT, tokoh yang paling keras menentang proyek."
Perjalanan menuju rumah Pak RT ditempuh dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak berbatu. Sepanjang jalan, bisik-bisik warga terdengar jelas. Mata-mata penuh curiga mengawasi setiap langkah mereka. Arka, yang terbiasa hidup di lingkungan korporasi yang tertib, tampak tidak nyaman dengan sorotan tajam warga.
"Mereka melihat kita seperti musuh negara," bisik Arka pelan di sebelah Kinan.
"Karena bagi mereka, kehadiran proyek bapak sama artinya dengan penggusuran masa depan anak cucu mereka," balas Kinan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. "Makanya, jaga gestur tubuh bapak. Jangan melipat tangan di dada seperti itu. Itu tanda menantang."
Begitu tiba di halaman rumah Pak RT, seorang pria paruh baya bertopi jerami langsung menyambut mereka dengan golok terselip di pinggang. Suasana langsung menegang.
"Mau apa lagi kalian ke sini? Sudah kubilang, tanah ulayat ini tidak untuk dijual!" bentak Pak RT, suaranya menggema di pekarangan sempit itu.
Arka hendak maju merespons dengan argumen hukum, namun Kinan sigap bergerak menahan lengan Arka. Kinan melangkah maju dengan senyum ramah namun santun.
"Tabe, Pak RT. Kami datang bukan untuk membeli tanah dengan paksaan. Kami cuma ingin duduk bersama, minum kopi buatan ibu, dan mendengarkan apa sebenarnya keresahan warga," ucap Kinan dengan nada lembut berbahasa lokal bercampur Indonesia.
Pak RT mendengus keras, melirik Arka dengan sinis. "Bawa orang kota ini pergi kalau tidak mau terjadi keributan!"
"Pak RT, dengar dulu sebentar," bujuk Kinan gigih. "Kalau proyek ini tetap jalan tanpa melibatkan suara warga, bapak tahu sendiri siapa yang akan babak belur di pengadilan maupun di lapangan. Tapi kalau bapak mau dengar penjelasan kami hari ini, bapak bisa tahu persis apa jaminan keamanan untuk warga."
Arka terpaku mengamati cara Kinan mencairkan suasana. Ada ketulusan yang sulit dibuat-buat dalam diri wanita itu, sebuah kemampuan diplomasi akar rumput yang tidak diajarkan di bangku kuliah bisnis mana pun.
❖ ❖ ❖
Sore menjelang malam, ketegangan di beranda Pak RT perlahan mereda, meski secangkir kopi hitam di hadapan Arka masih utuh tidak tersentuh. Pertemuan selama tiga jam itu membuahkan hasil tipis: warga sepakat mendengarkan presentasi resmi, tetapi dengan syarat Kinan harus mendampingi Arka di setiap detik prosesnya.
Di perjalanan pulang menuju losmen, langkah kaki mereka terasa berat karena kelelahan. Udara malam desa mulai menusuk tulang.
"Kamu hebat tadi, Kinan," ucap Arka tiba-tiba, memecah keheningan di bawah temaram lampu jalan desa yang redup.