Akar di Sela Karang,

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Retak di Balik Kesempurnaan

Langit pesisir selatan yang tadinya benderang mendadak berubah gelap gulita dalam hitungan menit. Awan kumulonimbus berarak cepat, menggulung tebal dan menutupi cahaya matahari sore yang hangat. Angin laut bertiup kencang, menerbangkan pasir pantai dan dedaunan kering di sekitar bukit karang tempat Arka dan Kinan sedang melakukan peninjauan akhir jalur drainase proyek.

"Badai datang lebih cepat dari perkiraan," seru Kinan, suaranya hampir tenggelam di antara deru angin yang mulai menderu keras. Gadis berrompi lapangan itu segera mengamankan lembar peta geologi ke dalam tas anti air miliknya. "Kita harus berteduh sekarang!"

Arka, yang berdiri beberapa meter di belakangnya sambil memegang clipboard, mengangguk cepat. "Di mana tempat berteduh terdekat? Jalur turun ke posko utama terlalu berbahaya jika kita lewati di tengah hujan lebat seperti ini."

"Ada pondok nelayan tua di balik teluk kecil sebelah barat. Ikuti aku!" sahut Kinan, lalu berlari lincah menuruni lereng bukit yang dipenuhi semak belukar.

Arka tidak punya pilihan selain menyusul langkah cepat perempuan itu. Sebagai seorang arsitek metropolitan yang terbiasa dengan kenyamanan gedung-gedung bertingkat berpendingin ruangan, berlari menembus terpaan angin pesisir di atas tanah becek adalah hal yang sangat asing baginya. Sepatu pantofel modifikasi lapangan miliknya terasa berat dipenuhi lumpur, namun ia terus memaksa kakinya melangkah cepat.

Tetesan air hujan yang besar mulai jatuh menghantam tanah, berubah menjadi badai lebat yang mengguyur tanpa ampun dalam hitungan detik. Basah kuyup dan kehabisan napas, keduanya akhirnya berhasil mencapai bangunan kecil berdinding kayu usang yang berdiri kokoh di atas tiang-tiang pancang di tepi pantai. Kinan mendorong pintu kayu yang berderit keras, lalu menarik Arka masuk ke dalam ruang yang kering dan terlindung dari amukan angin.

Pondok nelayan itu tampak kosong dan sederhana. Hanya ada sebuah meja kayu tua, dua bangku pendek, serta aroma khas kayu basah dan jaring ikan yang tersimpan di sudut ruangan. Suara deru ombak yang menghantam dinding karang di luar terdengar begitu dominan, menciptakan atmosfer terisolasi dari dunia luar.

"Fiuh, hampir saja kita terseret badai," kata Kinan sambil merapikan ikatan rambutnya yang basah kuyup menempel di dahi. Ia melepas jaket lapangannya yang basah, memperlihatkan kaus polos berwarna gelap di baliknya. "Kau baik-baik saja, Arka? Wajahmu pucat sekali."

Arka menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh bukan hanya karena kelelahan berlari, tetapi juga karena situasi yang tiba-tiba terasa begitu intim di ruang yang sempit ini. Ia menyeka air hujan yang menetes dari rambut hitamnya menggunakan punggung tangan.

"Aku baik-baik saja," jawab Arka singkat, mencoba mempertahankan nada suara dingin dan terkontrol yang selalu ia tunjukkan di hadapan tim proyek. "Hanya sedikit terkejut dengan perubahan cuaca ekstrem di tempat ini."

Kinan menatap Arka sejenak dengan sebelah alis terangkat. Ia sudah cukup lama berinteraksi dengan arsitek itu untuk tahu kapan Arka sedang memasang benteng pertahanan dirinya. "Udara di sini dingin, Arka. Jangan sok kuat jika tidak ingin terkena hipotermia. Duduklah di dekat meja, aku akan melihat apakah ada kain kering atau sisa kayu di sudut sana."

Arka tidak menjawab. Ia menuruti perkataan Kinan, berjalan pelan menuju bangku kayu dan duduk di sana. Dinginnya udara pesisir mulai merasuk ke dalam tulang, namun ada dingin yang lain—dingin yang berasal dari dalam dirinya sendiri—yang jauh lebih sulit untuk dihangatkan. Ia menatap ke luar jendela kecil yang basah oleh air hujan, merenungkan bagaimana hidupnya selama ini berjalan sesuai dengan garis-garis kaku yang telah digambarkan oleh keluarganya.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam pondok terasa semakin sunyi seiring dengan intensitas hujan di luar yang semakin lebat. Kinan kembali dari sudut ruangan membawa selembar kain lap bersih yang agak kering dan sebuah botol termos kecil berisi air hangat yang masih tersisa di dalam tas ranselnya. Ia meletakkan benda-benda itu di atas meja kayu di hadapan Arka.

"Gunakan kain ini untuk mengeringkan wajah dan lehermu, lalu minumlah air hangat ini," ujar Kinan instruktif, tanpa menyisakan ruang bagi penolakan.

Arka menatap kain dan termos di depannya, lalu mendongak menatap mata Kinan yang jernih dan tajam. Ada perhatian yang tulus di sana, sesuatu yang jarang sekali didapatkan Arka dari orang-orang terdekat di lingkaran sosial maupun keluarganya di ibu kota.

"Terima kasih, Kinan," ucap Arka pelan, mengambil termos tersebut dan menuangkan sedikit air hangat ke cangkir kecil. "Kau selalu memperlakukanku seolah-olah aku ini anak kecil yang tidak bisa mengurus diri sendiri di lapangan."

Kinan menarik bangku di seberang Arka dan duduk menghadapnya. "Bukan anak kecil. Hanya saja, orang-orang sepertimu—yang terbiasa hidup di menara gading perkotaan—sering kali lupa bahwa alam tidak peduli dengan status sosial atau gelar arsitek senior yang kau miliki di belakang namamu."

Arka tersenyum tipis, senyum yang terasa hampa dan dipenuhi beban tersembunyi. "Menara gading... ya, kau benar. Selama ini hidupku memang diatur sedemikian rupa seperti sebuah bangunan monumen yang harus berdiri megah tanpa cela."

Kinan menyipitkan matanya, menangkap perubahan nada bicara Arka yang tidak biasa. "Apa maksudmu?" tanya Kinan lembut, mengubah sikap kasarnya menjadi pendengar yang serius.

Arka menatap dasar cangkir logam di tangannya, memperhatikan pantulan bayangannya sendiri yang pecah oleh riak air. "Keluargaku memiliki firma arsitektur terbesar di negeri ini. Sejak kecil, aku dididik untuk menjadi pewaris tunggal yang sempurna. Tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh ada kegagalan, dan yang paling penting... aku harus selalu tampil sempurna di hadapan publik."

"Seperti bunga di taman yang harus selalu mekar indah, apapun musim yang sedang terjadi di luar," tambah Arka lirih, menyuarakan metafora yang selama ini menghantui pikirannya.

Lihat selengkapnya