Akar di Sela Karang,

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Titik Balik Rasa (Midpoint)

Suara deburan ombak yang menghantam karang terdengar begitu berirama, berpadu dengan deru angin laut pesisir selatan yang membawa aroma garam dan sisa-sisa basah hujan semalam. Di atas punggung bukit karang yang terjal, Arka berdiri tegak sambil memegang clipboard berisi peta topografi dan lembar data geoteknik. Matanya menatap tajam ke arah hamparan tebing di hadapannya, tempat di mana sebuah proyek resor ekowisata rencananya akan segera dibangun.

Sebagai seorang arsitek senior yang terbiasa merancang bangunan-bangunan megah di pusat ibu kota, penugasan lapangan seperti ini sebenarnya berada di luar zona nyamannya. Namun, demi memastikan integritas struktural proyek mercusuar perusahaannya, ia harus turun tangan langsung.

Beberapa meter dari tempatnya berdiri, Kinan tengah sibuk membentangkan pita ukur bersama seorang asisten lokal. Kinan adalah seorang insinyur geoteknik lapangan yang dikenal independen, keras kepala, dan sama sekali tidak gentar menghadapi ganasnya medan alam. Mengenakan rompi lapangan yang penuh noda debu kapur dan sepatu bot kusam yang telah menemani berbagai ekspedisinya, Kinan tampak begitu menyatu dengan alam liar di sekitarnya.

"Arka! Jangan berdiri di dekat tepi luar batuan itu!" Suara Kinan memecah konsentrasi, terdengar lantang dan tegas di tengah desau angin. "Formasi batu kapur di sini mengalami pelapukan bawah permukaan akibat abrasi. Pinggirannya tidak sekuat yang terlihat secara visual!"

Arka menoleh pelan, menatap Kinan dengan sebelah alis terangkat. Ia merasa sedikit terusik dengan nada bicara perempuan itu yang terkesan menggurui. "Aku tahu apa yang kulakukan, Kinan. Aku sudah membaca laporan sampel inti tanah yang kalian ambil minggu lalu," balas Arka dengan nada tenang namun menyiratkan sedikit nada defensif.

Kinan mendengus pelan, melangkah mendekat dengan langkah mantap di atas bebatuan yang tidak rata. "Laporan di atas kertas itu hanya mencerminkan kondisi sampel yang dibawa ke laboratorium, Arka. Kondisi mikroklimat di lapangan jauh lebih dinamis. Angin laut dan kelembapan tinggi mempercepat erosi retakan mikro di sini."

Arka melipat tangannya di dada, menatap perempuan itu lekat-lekat. "Kau selalu berbicara seolah-olah alam ini adalah musuh yang siap menyerang kapan saja. Tidakkah kau menikmati keindahan estetika tebing ini? Garis konturnya sangat dramatis untuk sebuah konsep arsitektur terbuka."

"Estetika tidak ada gunanya jika tebing tempat bangunan itu berdiri runtuh saat musim angin muson tiba," potong Kinan cepat, tanpa ragu sedikit pun menepis pandangan romantis Arka terhadap alam. "Bangunanmu boleh saja terlihat indah dari kejauhan, tetapi jika fondasinya mengabaikan dinamika geologis, itu hanya menjadi monumen bencana yang menunggu waktu."

Arka terdiam sejenak. Ada ketegasan yang luar biasa dalam cara Kinan memandang pekerjaannya. Selama ini, Arka dikelilingi oleh orang-orang yang selalu memuji keindahan visual rancangannya tanpa pernah mempertanyakan esensi ketahanan dasarnya secara mendalam. Sikap Kinan yang blak-blakan justru memberikan perspektif baru yang baginya terasa asing namun menarik.

"Baiklah, sang ahli geologi," kata Arka akhirnya dengan senyum tipis yang menyiratkan tantangan. "Tunjukkan padaku di mana letak kerentanan yang kau khawatirkan itu, supaya aku bisa menyesuaikan cetak biru desainku."

Kinan menghela napas, sedikit melunak meski tatapannya tetap waspada. "Ikut aku. Kita harus turun ke teras batuan sekunder di bawah sana untuk memeriksa retakan vertikal akibat tekanan hidrostatik."

❖ ❖ ❖

Perjalanan menuruni tebing curam menuju teras sekunder bukanlah perkara mudah. Jalur setapak yang biasa digunakan penduduk lokal kini licin tertutup lapisan lumut tipis yang baru saja tersiram embun pagi. Arka berjalan di belakang Kinan, memegang erat tali pengaman portabel yang mereka bawa. Meski berpengalaman dalam penataan ruang, mobilitas di medan vertikal yang ekstrem seperti ini membuat otot-otot kakinya terasa tegang.

"Perhatikan setiap pijakan kakimu, Arka. Jangan hanya mengandalkan kekuatan tangan pada tali," instruksi Kinan dari depan, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan Arka mengikutinya dengan benar.

"Aku baik-baik saja, Kinan. Fokus saja pada jalurmu," jawab Arka, berusaha menyembunyikan napasnya yang mulai sedikit memburu.

Mereka tiba di sebuah celah karang yang cukup sempit namun menawarkan sudut pandang yang sangat jelas mengenai struktur lapisan batuan sedimen di bawahnya. Kinan segera mengeluarkan palu geologi dan kaca pembesar kecil dari saku rompinya, lalu mulai mengetuk beberapa bagian dinding batu untuk mendengarkan resonansi suaranya.

"Dengar bunyi pantulannya?" tanya Kinan sambil mengetuk sebuah tonjolan batu berwarna abu-abu gelap. Suaranya terdengar nyaring dan berongga. "Ini menandakan ada rongga tersembunyi di balik dinding ini. Tekanan dari struktur bangunan di atasnya nanti bisa memicu keruntuhan mendadak jika kita tidak menyuntikkan semen injeksi khusus."

Arka mendekat, membungkukkan badan untuk melihat lebih dekat retakan yang ditunjuk Kinan. "Artinya, seluruh zona timur laut harus digeser setidaknya tiga meter ke arah daratan?"

"Tepat," jawab Kinan, menengadah untuk menatap Arka. Jarak mereka kini sangat dekat, hanya terpaut beberapa jengkal di dalam celah batu yang sempit itu. Bau khas udara laut bercampur aroma keringat tipis tercium di antara keduanya. "Dan itu berarti kau harus merombak ulang seluruh tata letak lanskap yang sudah kau susun selama sebulan terakhir."

Arka tersenyum masam, meski di dalam hatinya ia merasa kagum pada ketelitian perempuan di hadapannya ini. "Kau benar-benar tidak memberi ruang bagi kompromi estetika, ya?"

Lihat selengkapnya