Angin laut di pesisir Tanjung Ratu berembus jauh lebih kencang dari biasanya, membawa hawa dingin yang menusuk tulang hingga ke balik dinding-dinding rumah panggung nelayan. Di beranda rumah, Kinan menatap hamparan laut yang bergolak dengan buih-buih putih yang menggulung ganas. Namun, bukan lagi deburan ombak sore itu yang membuat dadanya sesak, melainkan badai tak kasat mata yang kini tengah menghantam hidupnya secara perlahan.
Sejak kepulangannya sebagai sarjana dan pemimpin program pemberdayaan pesisir, nama Kinan selalu disandingkan dengan Arka—seorang arsitek muda sekaligus investor perkotaan yang mendanai proyek modernisasi pelabuhan dan kawasan wisata bahari di kampung halamannya. Hubungan profesional yang awalnya berjalan di atas landasan kerja sama kini mulai disorot tajam oleh warga desa, bahkan menjadi bahan gunjingan panas di kedai kopi.
"Kinan, apa benar kau sekarang sudah menjadi boneka orang-orang kota itu?" suara serak Pak Dirta memecah keheningan sore, mengejutkan Kinan yang tengah melipat dokumen perencanaan proyek di atas meja bambu.
Kinan menoleh cepat, mendapati ayahnya berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata yang menyendu namun penuh selidik. "Maksud Ayah apa? Kinan tidak pernah menjadi boneka siapa pun. Semua yang Kinan lakukan murni untuk kemajuan nelayan di sini."
"Kemajuan macam apa kalau dermaga tempat kakekmu dulu menambat perahu justru akan digusur demi kepentingan resor mewah mereka?" sambar Mak Nur yang keluar dari dapur, membawa secangkir teh jahe hangat dengan tangan gemetar. "Warga di dusun sebelah sudah mulai berontak, Kinan. Mereka merasa dibohongi oleh dokumen yang kau tandatangani."
Kinan tertegun, cangkir di tangannya hampir terlepas. "Dibohongi bagaimana, Mak? Aku ikut merumuskan draf itu agar hak-hak nelayan terlindungi. Tidak ada rencana penggusuran paksa!"
"Kau terlalu naif, Nak!" suara Pak Dirta meninggi, untuk pertama kalinya membentak Kinan setelah sekian lama. "Dunia di balik jas rapi dan gedung kaca tempatmu bekerja dulu tidak sama dengan dunia kita di atas karang. Mereka memintamu menaruh tanda tangan di atas kertas putih, tapi di belakangmu, investor besar itu sudah menjual tanah leluhur kita kepada korporasi asing!"
Dada Kinan terasa dihantam palu godam. Kalimat ayahnya menghujam telak ke ulu hatinya, memicu gelombang keraguan yang selama ini ia tepis jauh-jauh. Di tengah kemelut batin itu, deru mesin mobil sedan mewah tiba-tiba terdengar membelah jalan setapak berbatu di depan rumah panggung mereka—sebuah pemandangan yang sangat ganjil di perkampungan nelayan yang miskin ini.
Pintu mobil terbuka, dan sesosok perempuan berpenampilan modis dengan gaun desainer kelas atas turun melangkah anggun, menghindari genangan lumpur dengan sepatu hak tingginya. Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih tanpa cela, dan senyumannya memancarkan aroganisme kaum borjuis kota yang sangat dihafal Kinan di luar kepala: citra sempurna dunia taman bunga.
Perempuan itu adalah Nadya, tunangan sah Arka, yang datang tanpa diundang ke ujung karang paling sunyi di pesisir selatan ini.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Nadya berhenti tepat di halaman rumah panggung Kinan. Ia menatap sekeliling dengan pandangan jijik yang tidak ditutup-tutupi, mengibas-ngibaskan tangan di dekat hidungnya seolah bau amis ikan asin di udara adalah sebuah polusi yang memuakkan.
"Jadi, di sinilah tempat tinggal gadis yang selama ini dibanggakan oleh Arka di setiap rapat direksi," ucap Nadya sinis, menyunggingkan senyum remeh sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Kinan bangkit dari kursi bambunya, menghadapi perempuan itu dengan tatapan tajam nan tenang. "Kalau kedatanganmu hanya untuk menghina tempat ini, lebih baik kau balik kanan dan kembali ke duniamu yang mewah."
Nadya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar palsu dan menusuk telinga. "Wah, berani juga rupanya si anak karang ini. Pantas saja Arka sempat tertarik pada kepolosanmu. Tapi kau harus tahu diri, Kinan. Hubungan kalian di kantor hanyalah sebatas rekan kerja proyek. Di dunia nyata, kau dan Arka hidup di galaksi yang berbeda."
"Apa maksud kedatanganmu kemari, Nadya?" potong Kinan dingin, tidak ingin membuang waktu meladeni kesombongan perempuan kota itu.
Nadya mengeluarkan sebuah amplop tebal dari dalam tas tangan bermerknya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja bambu di hadapan Kinan. "Ini cek kompensasi untuk keluargamu. Jauhi Arka, dan jangan pernah ikut campur lagi dalam urusan investasi proyek resor itu. Tanda tangani surat pengunduran dirimu dari jabatan ketua program besok pagi."
Mak Nur yang melihat kejadian itu dari ambang pintu menutup mulutnya dengan tangan, air matanya menetes seketika. "Ya Allah... begini caramu memperlakukan anak kami?" cicit Mak Nur dengan suara bergetar.
Kinan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Bekas kapalan di telapak tangannya terasa berdenyut nyeri, membakar amarah yang sedari tadi ditahannya mati-matian.
"Ambil uangmu kembali, Nadya," ucap Kinan dengan suara rendah namun bergetar penuh penekanan. "Harga diriku dan harga diri warga kampung ini tidak bisa dibeli dengan cek murah dari perempuan sombong sepertimu!"
Nadya mendengus keras, menatap Kinan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh penghinaan. "Harga diri? Jangan melawak, Kinan. Kau pikir dengan secarik ijazah sarjana dan blazer murah itu kau bisa menyetarakan diri dengan keluarga kami? Kau tetaplah anak nelayan miskin yang bau amis laut. Suatu saat nanti, Arka sendiri akan bosan memperalatmu untuk meredam kemarahan warga desa."
Sebelum Kinan sempat membalas, sebuah suara bariton yang tidak asing tiba-tiba memecah ketegangan di halaman rumah.
"Cukup, Nadya! Apa yang kau lakukan di sini?!" teriak Arka yang baru saja turun dari taksi lokal, napasnya memburu karena kelelahan setelah berlari menyusuri jalan setapak.
❖ ❖ ❖