Sirine darurat di menara pemantau pesisir selatan melengking tinggi, membelah malam yang pekat dengan ritme yang memekakkan telinga. Angin kencang berkecepatan di atas seratus kilometer per jam menghantam apa saja yang berdiri di jalur lintasannya. Di dalam ruang kendali darurat perusahaan, layar-layar monitor besar menyala merah padam, menampilkan peringatan status bahaya tingkat tertinggi yang berkedip-kedip tanpa henti. Hujan lebat turun bagaikan ribuan jarum es yang dilemparkan dari langit gelap gulita, menghantam kaca jendela dengan kekuatan penuh.
Arka berdiri terpaku di depan meja utama, napasnya memburu tidak beraturan. Seluruh tubuhnya mendadak terasa dingin, bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena bayangan masa lalu yang tiba-tiba merayap kembali ke dalam kesadarannya. Ingatannya melompat mundur ke malam dua puluh tahun silam, malam kelam ketika badai serupa merenggut nyawa kedua orang tuanya di tengah laut. Trauma masa kecil itu menghantam dadanya seperti palu godam, membuat tenggorokannya tercekat dan dadanya terasa sesak oleh rasa takut yang luar biasa.
"Arka! Semua jalur evakuasi utama terputus total akibat pohon tumbang dan luapan air laut!" suara Nadia berteriak kencang di antara deru angin dan alarm yang tak kunjung berhenti. Asisten itu berlari mendekat dengan jas hujan kuning yang basah kuyup. "Warga di perkampungan nelayan pesisir terjebak di aula desa. Air sudah naik hingga batas pinggang orang dewasa!"
Arka menoleh dengan tatapan kosong sesaat, sebelum kesadarannya ditarik kembali ke dunia nyata oleh teriakan kepedihan yang tersirat dari laporan tersebut. Di sana, di tengah amukan badai yang mengerikan, Kinan—perempuan aktivis lingkungan yang selama ini menentang proyeknya—masih berada di lapangan bersama para relawan untuk mengevakuasi warga yang tertinggal.
"Kinan..." bisik Arka lirih, nama itu terucap begitu saja dari bibirnya yang pucat.
"Apa yang akan kita lakukan, Arka? Tim penyelamat profesional dari kota tidak bisa menembus jalan raya karena jembatan utama retak," tanya Nadia dengan nada putus asa, menatap atasannya yang tampak bergeming di ambang kepanikan batin.
Arka mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ketakutan yang selama ini ia kubur dalam-dalam bergolak hebat di dalam rongga dadanya. Namun, bayangan senyum Kinan dan keselamatan warga yang tak berdosa jauh lebih besar daripada ketakutannya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, membuang jauh-jauh rasa trauma yang mencekam, lalu menyambar jaket tebal tahan air dari gantungan kursi.
"Aku akan turun tangan langsung ke sana," ucap Arka tegas, menatap lurus mata Nadia tanpa keraguan sedikit pun.
"Tapi itu bunuh diri, Arka! Badai di luar sana sedang mengamuk hebat!" sergah Nadia panik.
"Jika aku hanya berdiam diri di sini di balik layar steril ini, maka aku bukan lagi seorang arsitek kehidupan, melainkan pengecut," balas Arka dingin sebelum ia berbalik langkah dan berlari meninggalkan ruang kendali menuju pintu keluar basement.
❖ ❖ ❖
Mobil jip perusahaan yang dikemudikan Arka bergetar hebat setiap kali hantaman angin samping menerpa bodi kendaraan. Jalanan pesisir yang biasanya mulus kini berubah menjadi sungai berlumpur dan dipenuhi serpihan kayu serta puing-puing bangunan yang beterbangan. Kilatan petir menyambar silih berganti, menerangi langit malam dengan cahaya keunguan yang menakutkan, menciptakan pemandangan layaknya medan perang pasca-bombardir.
Arka harus memutar arah beberapa kali karena pohon besar melintang di tengah jalan. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin bercampur dengan air hujan yang merembes lewat jendela mobil yang setengah terbuka. Setiap kali suara guntur menggelegar dahsyat, bayangan ombak besar masa lalu sekelebat melintas di benaknya, membuat tangannya di atas kemudi bergetar hebat. Ia menggigit bibirnya hingga terasa pedas demi mengembalikan fokusnya pada jalanan yang hampir tak terlihat.
"Bertahanlah, Kinan," gumam Arka berulang kali di tengah deru mesin yang meraung-raung melawan genangan air tinggi.
Ketika ia akhirnya berhasil mencapai batas kawasan perkampungan nelayan, pemandangan yang tersaji di hadapannya benar-benar mencengangkan sekaligus memilukan. Perahu-perahu nelayan terbalik di daratan, dan air laut berwarna cokelat pekat telah merendam separuh bangunan rumah panggung. Di kejauhan, di dekat aula desa yang menjadi pusat perlindungan darurat, cahaya senter berkedip-kedip lemah menembus tirai air hujan yang lebat.
Arka mematikan mesin jip, membuka pintu dengan susah payah melawan dorongan angin yang kuat, lalu melompat turun ke dalam genangan air yang hampir mencapai pinggangnya. Ia berjalan terseok-seok melawan arus air yang deras, menggunakan sisa tenaganya untuk mendekati bangunan aula desa tempat warga terjebak.
"Arka!" sebuah suara teriakan perempuan terdengar samar di tengah amukan angin.
Arka mendongak dan melihat sesosok tubuh berbalut jaket merah terang sedang berusaha mendorong pintu kayu aula yang macet akibat terjepit puing. Itu Kinan. Rambutnya basah kuyup menempel di wajah, dan tangannya tampak berdarah kecil akibat tergores serpihan kayu keras saat berusaha menyelamatkan seorang anak kecil di dalam sana.
"Kinan!" balas Arka berteriak sekuat tenaga, lalu mempercepat langkahnya menerjang air yang semakin meninggi untuk segera mencapai sisi perempuan itu.
❖ ❖ ❖
Arka tiba di teras aula desa dengan napas terengah-engah dan sekujur tubuh menggigil hebat. Tanpa buang waktu, ia langsung merangsek maju membantu Kinan mendorong daun pintu kayu yang berat itu.