Akar di Sela Karang,

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Memilih Akar atau Taman

Udara sore di teras rumah tua pinggir dermaga terasa begitu lembap, membawa serta aroma garam laut yang pekat dan sisa-sisa basah dari hujan gerimis yang baru saja reda beberapa jam lalu. Di hadapan meja kayu jati yang permukaannya sudah mulai mengelupas, Arka duduk diam menatap secangkir teh tawar yang mengepulkan uap tipis. Tangannya menggenggam ponsel pintar yang layarnya menyala terang, menampilkan sebuah pesan panjang dari ibunya di kota besar—pesan yang berisi ultimatum dingin mengenai masa depan kariernya, relasinya dengan keluarga besar, serta tentu saja, pembatalan sepihak pertunangannya dengan Sigi yang selama ini digadang-gadang sebagai pernikahan aristokrat birokrasi paling strategis tahun ini.

Di seberang meja, Kinan duduk bersandar pada kursi rotan sambil merajut kembali ujung jaring nelayan yang robek. Gerakan tangannya teratur, tenang, namun matanya sesekali melirik ke arah Arka, menangkap keresahan yang masih bergelayut di garis wajah lelaki itu.

"Ibumu masih mengirim pesan bernada ancaman?" tanya Kinan pelan, suaranya memecah keheningan senja yang mulai merangkak naik.

Arka menarik napas panjang, lalu meletakkan ponselnya telungkup di atas meja seolah ingin menenggelamkan segala beban virtual yang dikirimkan keluarganya dari jarak ratusan kilometer. "Bukan ancaman biasa, Kinan. Beliau bilang aku sedang menghancurkan warisan keluarga yang dibangun selama tiga generasi. Bagi mereka, keluar dari birokrasi pusat dan memilih tinggal di pesisir bersama program pemberdayaan masyarakat mandiri adalah bentuk bunuh diri sosial."

Kinan menghentikan gerakan tangannya sebentar, menatap lurus ke dalam mata Arka. "Dan kamu takut?"

"Aku tidak takut kehilangan jabatan atau fasilitas," jawab Arka jujur, menatap balik perempuan di depannya dengan tatapan yang jauh lebih jernih dibanding beberapa bulan lalu saat pertama kali ia menginjakkan kaki di desa ini dengan sepatu pantofel mahalnya. "Yang membuatku ragu... apakah keputusanku ini benar-benar murni untuk berpihak pada kebenaran, atau sekadar bentuk pemberontakan kekanak-kanakan terhadap ayahku?"

Kinan tersenyum tipis, senyuman yang menyiratkan kedewasaan dan pengalaman batin yang dalam. "Pemberontakan dan pencarian jati diri seringkali lahir dari rahim yang sama, Arka. Bedanya, sekarang kamu sudah melihat sendiri bagaimana angka-angka di atas meja kerjamu dulu berdampak langsung pada nasib manusia nyata. Kamu tidak lagi hidup di dalam sangkar kaca."

Arka mengangguk pelan. "Ya. Selama ini aku hidup di dalam taman buatan yang disiram air steril dan diberi pupuk kimia agar tumbuh indah sesuai cetak biru orang lain. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki akar yang menembus tanah keras, mencari air sendiri, dan bertahan di tengah terpaan angin badai."

"Maka sekarang saatnya memilih," ucap Kinan lembut sambil meletakkan jaring di pangkuannya. "Apakah kamu mau kembali ke taman buatan itu demi kenyamanan, atau memilih hidup dengan akar yang nyata meskipun harus terluka oleh batu karang?"

"Aku sudah memilih," kata Arka tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Hari ini aku resmi mengirim surat pengunduran diri dari kementerian, dan aku sudah memutuskan pertunanganku dengan Sigi. Aku ingin mulai dari nol, belajar dari bawah, di sini, bersama kalian."

❖ ❖ ❖

Keputusan besar itu tidak datang tanpa badai emosional yang menguji ketahanan mental Arka. Keesokan paginya, ketika matahari baru saja menyembulkan sinarnya di balik cakrawala timur, ponsel Arka berdering tanpa henti. Panggilan video berturut-turut dari ayahnya masuk ke layar, memaksa Arka untuk akhirnya mengangkat panggilan tersebut di sudut sepi balai desa.

"Arka! Apa kamu sudah kehilangan akal sehat?!" suara bariton ayahnya langsung membahana dari speaker kecil ponsel, penuh kemarahan yang tertahan. "Mengundurkan diri dari jabatan strategis di kementerian pada usia muda? Dan memutuskan pertunangan dengan keluarga Hartono demi perempuan nelayan antah-berantah di pesisir? Kamu sadar apa yang sedang kamu pertaruhkan?"

Arka menelan ludah, namun suaranya tetap tenang dan terkendali. "Aku sadar sepenuhnya, Ayah. Selama ini aku hidup menuruti skenario yang Ayah buat agar nama baik keluarga tetap terjaga di lingkaran kekuasaan. Tapi aku tidak pernah bahagia. Setiap kali aku menandatangani draf penggusuran atau rekomendasi zona industri yang mengorbankan warga kecil, ada bagian dari diriku yang mati."

"Itu namanya dinamika pembangunan, Arka! Dunia tidak berjalan dengan idealisme kosong!" bentak ayahnya di ujung sambungan sana. "Kalau kamu terus bersikap naif seperti ini, jangan harapkan satu sen pun bantuan atau pengakuan dari keluarga kita lagi. Anggap saja aku tidak punya anak sepertimu!"

Lihat selengkapnya